Tuban Abu Mualak | Bocah Berbakti Kepada Orang Tua

Tuban Abu Mualak | Bocah Berbakti Kepada Orang Tua

Perkenalkan Saya Tuban Abu Mualak, sedang belajar untuk membantu orang tua saya. Banyak hal dan cara-cara untuk membantu orang tua yang bisa kita sesuaikan dengan kemampuan yang ada. Karena saya yakin bahwa kemampuan manusia itu berbeda-beda, ada yang lemah dan ada yang kuat, ada yang besar dan ada yang kecil, ada yang tinggi dan ada pula yang pendek, dan banyak hal lainnya yang menunjukan bahwa manusia itu berbeda kemampuannya. Pada dasarnya setiap manusia memiliki fitrah yang berbeda.

Foto berikut adalah salah satu contoh Bocah Berbakti Kepada Orang Tua yang disesuaikan dengan kemampuannya.


https://www.percetakansukawera.com/p/tuban-abu-mualak.html
Tuban Abu Mualak | Bocah Berbakti Kepada Orang Tua.html

Ada seorang laki-laki yang datang kepada Rasulullah saw. lalu berkata,"Ya Rasulullah, saya ini mau berjuang, tetapi saya tidak mampu". Rasulullah saw. bersabda:"Apakah kedua orang tuamu masih hidup?"

Ia menjawab,"Ya, ibuku".

Sabda Rasulullah saw:

"Berdoalah kepada Allah senantiasa berbakti kepadanya. Jika kamu mengerjakan yang demikian, artinya kamu sama dengan mengerjakan ibadah haji, umrah dan berjuang."

"Ridho Allah tergantung  (menurut) ridho kedua orang tua, dan kemurkaan Allah tergantung pada kemurkaan kedua orang tua".(H.R. Ibnu Hibban)

Imam Ahmad meriwayatkan hadits dari Rasulullah saw, beliau bersabda :

"Barang siapa yang merasa gembira jika umurnya panjang dan rizkinya luas, maka berbaktilah kepada kedua orang tua dan mempererat silaturrahim".

Ibnu Majjah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw, bersabda:

"Sesungguhnya ada seorang laki-laki yang terhalang rizkinya karena dosa yang diperbuat. Dan tiada mampu menolak ketentuan qodar kecuali doa, begitu pun tidak ada yang dapat menambah umur kecuali berbuat baik".

Imam Abu Ya'la meriwayatkan bahwa Rasulullah saw, bersabda:

"Barang siapa yang berbakti kepada orang tuanya, dia akan memperoleh keberuntungan yang besar dan Allah akan menambah umurnya".

Dikisahkan bahwa dahulu ada tiga orang yang terperangkap dalam sebuah gua. Dan tiba-tiba ada batu besar yang menutup pintu gua, sehingga mereka tidak dapat keluar.

Mereka menjadi bingung, kemudian salah seorang dari mereka mengatakan kepada yang lainnya: Carilah amal kebajikan yang kalian kerjakan yang murni karena Allah swt. kemudian jelaskan sebagai doa kepada Allah. Semoga Allah Azza wa Jalla mengabulkan doa dan menghilangkan batu ini".

Kemudian salah seorang diantara mereka berkata, "Ya Allah, sesungguhnya aku punya dua orang tua yang tua renta, dan aku tidak pernah memberikan minuman maupun harta kepada keluarga ku sebelum aku memberikan kepada kedua orang tua ku. Pekerjaan ku hanya pencari kayu, suatu hari aku membawa kayu dari tempat yang jauh dan tidak dapat kembali ke rumah sampai mereka tertidur, namun aku tetap tidak mau memberikan minum susu di malam hari kepada keluarga ku atau harta ku sebelum mereka berdua.

Aku pun hanya berdiam diri membawa mangkuk hingga terbit fajar. Mereka pun bangun dan minum minuman malam mereka. Ya Allah, aku melakukan itu semua demi mencari keridhaan-Mu. Lantaran itu, rengganglah batu yang menghalangi kami". Batu itu sedikit demi sedikit merenggang, namun mereka tetap tidak dapat keluar.

Dalam riwayat lain mengatakan: "Salah seorang dari mereka berkata: Aku punya anak kecil, aku adalah pengembala hewan jika aku pulang selalu memeras susu buat orang tua ku sebelum anak-anak ku.

Suatu ketika pekerjaan mencari kayu sangat menjauhkan aku, sampai sore pun aku belum datang, sampai aku melihat mereka tertidur. Aku pun memeras susu sebagaimana kebiasaan ku, kemudian aku berdiri di samping mereka, aku tidak mau membangunkan mereka, aku tidak akan memberikan susu buat anak-anak ku sekalipun anak-anak menangis di telapak kaki ku.

Keadaan ini sampai fajar tiba, dan tahukah Engkau bahwa aku melakukan ini hanya demi mencari keridhaan-Mu, maka renggangkanlah batu ini agar aku bisa melihat langit".

Maka Allah swt. merenggangkan batu itu sampai mereka dapat melihat langit lagi. Kemudian yang lain berdoa atas terpeliharanya zina dengan anak pamannya, yang lain lagi berdoa lantaran mengembangbiakkan harta buruhnya. Lalu batu itu mulai renggang seluruhnya sehingga mereka dapat keluar dari gua dan kembali kerumah masing-masing.

Abu Ubaidah berkata: "Saat aku datang ke Madinah datanglah Abdullah bin Umras, beliau berkata: "Apa kamu tau mengapa aku datang kesini?"

Aku jawab, "Tidak"

Dia berkata: "Sebab aku mendengar Rasulullah saw. berkata:

"Barang siapa ayahnya meninggal dan masih ingin menyambung persaudaraan, maka bersambunglah pada teman-teman ayahnya. Karena ayah ku ada tali persaudaraan dan rasa cinta, maka aku pun ingin menyambung lagi".

Rasulullah saw. bersabda:

"Sesungguhnya sikap yang terbaik adalah seorang anak menyambung persaudaraan dengan saudara yang menjadi kesayangan ayahnya".

Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw. kemudian berkata, "Ya Rasulullah, aku telah melakukan dosa besar, masih adakah kesempatan bagiku untuk bertaubat?"

Rasulullah saw. bersabda menjawab: "Apakah kamu mempunyai ibu?"

Dia menjawab: "tidak punya"

Beliau kembali bertanya: "Apakah kamu mempunyai bibi?"

"Ya, punya", jawabnya.

Kemudian Rasulullah saw. bersabda: "Maka berbaktilah kamu kepadanya!"

Suatu hari Ibnu Ma'ud ra. bertanya kepada Rasulullah saw. "Ya Rasulullah, amal apakah yang lebih di cintai oleh Allah?"

Rasulullah saw. menjawab: "Salat tepat waktu".

Ia bertanya lagi, "Apalagi, ya Rasulullah?"

Rasulullah saw. menjawab: "Berbakti kepada kedua orang tua".

Ia bertanya lagi, "Apalagi, ya Rasulullah?"

Rasulullah saw. menjawab: "Berjuang di jalan Allah".

Demikianlah keutamaan berbakti kepada kedua orang tua, dan di dalam surat Luqman Allah menegaskan dengan firman-Nya:

"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang tua, ibu, bapak, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah kepada-Ku dan kepada orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu".(Q.S.Luqman:14)

Berbakti kepada orang tua, bukan berarti menuruti segala kehendaknya meskipun menuntut agar keluar dari tauhid.

Jika demikian, maka kita dilarang untuk mentaatinya tetapi kita masih diwajibkan untuk menghormati mereka dengan akhlak yang baik, sebagaimana firman Allah swt dalam al-Qur'an surat Luqman:

"Dan jika keduanya memaksa mu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuan tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia ini dengan baik, dan ikutilah jalan orang-orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan".(Q.S.Luqman:15)

Baca juga: Hiduplah Sebagaimana Adanya | Motor Bodol

Dari sini jelas, bahwa berbakti kepada orang tua itu tidak mutlak, orang tua yang memerintahkan untuk menyekutukan Allah, tidak lagi wajib untuk mentaatinya. Tetapi masih wajib untuk menyayangi mereka di dunia, karena jasa kedua orang tua khususnya ibu, sangat besar.

Rasulullah saw. bersabda:

"Tidak mampu membalas seorang anak terhadap orang tuanya sekalipun orang tua di temukan dalam keadaan menjadi budak, lalu ia membeli dan memerdekakan".

Hadis ini mengisyaratkan bahwa jasa orang tua itu tak ter balas dengan harta benda berapa pun banyaknya kecuali senantiasa dengan mendoakan keduanya di setiap selesai shalat:

"Wahai Tuhanku, ambillah dosa-dosa dan dosa kedua orang tuaku, dan kasihanilah mereka berdua, sebagaimana keduanya mengasihi aku semasa kecilku".

Menjadi anak yang shaleh juga termasuk wujud dari berbakti kepada kedua orang tua, karena anak yang shaleh yang senantiasa mendoakan kedua orang tua menjadi amal jariyah bagi mereka berdua, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits:

"Jika anak Adam (manusia) meninggal dunia, maka putuslah segala amalnya, kecuali tiga perkara, yaitu: shadaqah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak yang shalih yang selalu mendoakan baginya (kedua orang tua)".

Baca juga: 3 kondisi kebahagiaan seorang hamba

Dua Puluh Tujuh Cara Berbakti Kepada Orang Tua

Syekh Muhammad bin Zameel Zeeno menyebutkan cara berbakti kepada orang tua sebagai berikut:

  1. Selalu berbicara sopan kepada kedua orang tua, jangan menghardiknya, karena berkata "ah" saja dilarang apalagi mengomel atau bahkan memukul mereka berdua. Naudzubillaahi min dzalik.
  2. Selalu taat kepada keluarga, selama tidak untuk bermaksiat kepada Allah.
  3. Selalu lemah lembut, jangan bermuka masam di hadapan mereka berdua.
  4. Selalu menjaga nama baik, kehormatan dan harta mereka berdua, dan tidak mengambil sesuatu tanpa seijinnya.
  5. Selalu melakukan hal-hal yang dapat meringankan tugas mereka berdua, meskipun tanpa perintah.
  6. Selalu bermusyawarah dengan mereka dalam setiap masalah kita, dan minta maaf dengan baik jika kebetulan kita berbeda pendapat.
  7. Selalu bersegera, jika mereka memanggil.
  8. Selalu menghormati sanak kerabat dan kawan-kawan mereka.
  9. Jangan membantah mereka dengan perkataan yang kasar, tetapi sopan dalam menjelaskan masalah.
  10. Janganlah kita membantah perintah mereka, jangan kita mengeraskan suara di atas suara mereka.
  11. Bangun dari tempat duduk atau tempat tidur, jika mereka datang.
  12. Selalu membantu ibu dalam pekerjaan di rumah, dan selalu membantu ayah dalam pekerjaan di luar (mencari nafkah).
  13. Tidak boleh pergi, jika mereka belum mengijinkan, meski urusan penting, jika terpaksa, maka minta maaf kepada mereka.
  14. Jangan masuk ke tempat mereka, jika mereka belum mengizinkan.
  15. Jika merokok, jangan merokok di depan mereka berdua.
  16. Jangan mendahului mereka kalau makan, dan hormatilah mereka dalam makanan dan minuman.
  17. Jangan mencela mereka, jika mereka berbuat sesuatu yang kurang menarik.
  18. Memperbanyak dalam mengunjungi mereka dan memberi hadiah.
  19. sampaikan terimakasih atas didikan dan jerih payah mereka, dan ambillah pelajaran dari anakmu betapa berat mendidik mereka.
  20. Orang yang paling berhak mendapat penghormatan adalah ibumu, kemudian ayahmu. Ketahuilah bahwa surga berada dibawah telapak kaki ibu.
  21. Usahakan tidak menyakiti orang tua dan jangan menjadikan mereka marah sehingga kamu merana di dunia dan akhirat, dan anakmu akan memperlakukan kamu sebagaimana kamu memperlakukan kedua orang tuamu.
  22. Jika meminta sesuatu dari orang tua, maka mintalah dengan lemah lembut, dan berterimakasih lah atas pemberian mereka, dan maafkanlah mereka jika menolak permintaanmu serta janganlah banyak-banyak meminta agar tidak mengganggu mereka.
  23. Jika telah mampu untuk mencari rizki, maka bantulah kedua orang tuamu.
  24. Kedua orang tuamu mempunyai hak atas kamu, istrimu juga mempunyai hak atas kamu, jika suatu ketika mereka berselisih, maka usahakan kamu pertemukan dan berilah masing-masing hadiah secara diam-diam.
  25. Selalu mendoakan keduanya.
  26. Ketahuilah bahwa doa orang tua kebaikan atau pun kejelekan diterima oleh Allah. Maka berhati-hatilah terhadap doa mereka yang jelek.
  27. Bersopan santun lah kepada setiap orang tua, karena orang yang mencaci orang tua lain sama dengan mencaci orang tuanya sendiri.

Rasulullah saw. bersabda:

"Diantara dosa-dosa besar ialah cacian seseorang kepada kedua orang tuanya, mencaci ayah orang lain maka ia mencaci ayahnya sendiri, mencaci ibu orang lain, maka ia mencaci ibunya sendiri".

Baca juga:

/Kakek Bantal/Kisah Wali Songo | Penyebar Agama Islam di Tanah Jawa/Salman Al Farisi Pencari Kebenaran/Halaman/Rahasia Takdir/Keutamaan Akhlak/Memerangi Nafsu Dengan Lapar/Cara Mengenali Nafsu/Cara mempermudah bangun malam/Mush'ab bin Umair Duta Islam yang Pertama/Berpikir Dan Bersyukur/Rahasia Bahagia | Kunci Bahagia/Jangan Menyesali Masa Lalu/Asal-Usul Syekh Siti Jenar/Keutamaan Menuntut Ilmu/Meningkatkan Kualitas Diri/Ciri-ciri orang yang sengsara/orang yang bahagia | happy person/Tentukan tujuan hidup/Jangan Risau dan Jangan Bersedih/Kalimat motivasi untuk hidup lebih baik/Hari Ini Milik Kita/Obat sakit hati bisa dilakukan sendiri/Pintu-pintu setan/Sabar dalam menghadapi cobaan/Motor bodol untuk jarak jauh/Ingin Kaya Seriuslah Bekerja/Renungan Suci #1/Renungan Suci #2/Renungan suci #3/Biarkan Hari Esok Datang/Tersenyumlah dan jangan bersedih/3 kondisi kebahagiaan seorang hamba/Hiduplah Sebagaimana Adanya | Motor Bodol/Sabar Dalam Cobaan

Semoga bermanfaat.

Wallahu a,lam bish-shawab.
Billahit-taufiq wal-hidayah.

Comments

Popular posts from this blog

Mush'ab bin Umair Duta Islam Yang Pertama | 60 Sahabat Nabi Muhammad saw

Ridha Terhadap Ketentuan Allah | Bersama Motor bodol

Tiga kondisi kebahagiaan seorang hamba

Hiduplah Sebagaimana Adanya | Motor Bodol

Jangan Menyesali Masa Lalu

Asal Usul Sunan Apel | Kisah Wali Songo

Motor bodol untuk jarak jauh