Objek Tidak Nyata

Objek Tidak Nyata

Telah kita ketahui bahwa tindakan imajinasi merupakan tindakan magis. Tindakan yang merupakan mantra yang dipersiapkan untuk memproduksi objek pikiran seseorang, sesuatu yang sangat dinafsukan oleh seseorang dalam arti seseorang dapat memiliki sesuatu itu. Dalam tindakan itu selalu ada sesuatu yang mutlak dan bersifat kanak-kanak, sebuah penolakan dalam memperhitungkan jarak dan berbagai kesulitan. Dengan demikian, seorang yang masih sangat muda bertindak dalam kesehariannya berdasarkan perintah dan permintaan yang sangat mendesak.

Objek mematuhi perintah kesadaran ini

Mereka muncul! Tetapi objek-objek itu memiliki eksistensi sangat unik yang akan kita coba untuk dijelaskan. Mula-mula mantra saya cenderung untuk mendapatkan objek-objek ini seutuhnya untuk mereproduksi eksistensi integralnya. Selanjutnya, objek-objek ini tidak muncul, seperti yang mereka lakukan dalam persepsi dari sebuah sudut pandang. Saya berusaha untuk membangkitkan atau memunculkan mereka seperti apa adanya.

Object

Saya perlu melihat peter seperti yang terlihat pada jam satu malam dalam profil, hari minggu yang lalu atau peter seperti yang terlihat kemarin dari jendela saya. Apa yang saya inginkan dan yang saya dapatkan adalah cuma peter. Ini tidak berarti bahwa peter tidak akan muncul dihadapan saya dengan posisi tertentu, dan bahkan mungkin pada suatu tempat tertentu. Tetapi objek-objek kesadaran imajinatif kita adalah bagai siluet yang digambarkan oleh anak-anak, wajahnya terlihat dalam profil, tetapi walaupun demikian kedua mata tergambarkan disana.

Secara singkat dapat dikatakan bahwa objek-objek yang diimajinasikan terlihat dari beberapa sisi pada saat yang sama. Atau yang lebih baik, karena kelipatan sudut pandang ini, sisi-sisi ini tidak memberikan perhitungan yang tepat tentang intensi imajinatif, objek-objek itu dapat dihadirkan dengan aspek yang sangat inklusif.

Sesuatu seperti sebuah draft kasar

Sudut pandang tentang objek-objek itulah yang lenyap, menjadi lemah. Semua objek ini tidak sungguh-sungguh masuk akal melainkan benda-benda yang sedikit pura-pura masuk akal. Selebihnya objek sebagai sebuah imaji adalah suatu ketidakriilan. Tidak dapat dasangkal bahwa objek itu hadir tetapi pada saat yang sama ia berada diluar jangkauan kita.

Saya tidak menyentuhnya, saya tidak dapat mengubah letaknya, atau mungkin saja saya melakukan itu dengan satu cara yang tidak riil, bukan dengan cara menggunakan tangan saya sendiri melainkan dengan tangan-tangan hantu yang memberikan tamparan pada wajah yang tidak riil tersebut. Untuk bertindak pada objek-objek yang tidak riil ini saya harus membagi diri saya sendiri. Artinya membuat diri saya menjadi tidak riil. Tetapi kemudian tidak satupun dari objek-objek ini yang mempersilakan saya untuk bertindak, untuk melakukan sesuatu.

Objek tersebut tidaklah berat atau memaksa

Objek-objek itu adalah pasivitas murni mereka menunggu. Napas kehidupan yang kita embuskan kepada mereka berasal dari kita, dari spontanitas kita. Apa bila kita menjauhi mereka, mereka akan hancur. Pada catatan berikut akan kita lihat bahwa objek-objek itu sama sekali tidak aktif, mereka adalah istilah-istilah pokok namun sama sekali bukan merupakan istilah-istilah orisinal. Bahkan diantara mereka sendiri, mereka tidak memiliki sebab akibat.

Keberadaan yang mungkin muncul

Adalah bahwa perkembangan imaji dengan asosiasi ini menimbulkan sejenis pasivitas pikiran. Apa bila saya membawa sebuah gambaran mental mengenai suatu pembunuhan yang terjadi dihadapan saya, muka saya melihat. Pisau yang tenggelam kedalam tubuh korban saya melihat darah yang membanjir dan tubuh korban yang tenggelam dalam genangan darah tersebut. Semua itu tergambar dengan jelas sekali, tetapi saya tidak melihat apa-apa selain diri saya sendiri. Saya membentuk semua kejadian itu dengan spontan, karena saya memikirkan semua yang terjadi itu. Detail ini tidak muncul bukan karena kecenderungan objek untuk melengkapi dirinya secara otomatis, seperti kata Wolff"reditur Integra-perceptio", melainkan karena adanya kesadaran baru yang terbentuk pada objek yang dibayangkan.

Inilah yang diperlihatkan dalam karya-karya Janet mengenai psychaesthenics, sifat magis obsesi yang diturunkan dari kenyataan bahwa pikiran memaksa diri untuk memproduksi objek yang ditakutinya. Tidak ada pemunculan ulang mekanis dari imaji yang dibayangkan jika tidak ada suatu monoideis itu dikehendaki, direproduksi oleh kepentingan, oleh sebuah kekejangan spontanitas.

Objek yang pasif

Ini yang tetap dihidupkan secara artifisial tetapi yang hampir akan sirna kapan saja, tidak dapat memuaskan keinginan. Tetapi objek itu tidak seluruhnya tidak bermanfaat, mengkonstruksi sebuah objek yang tidak riil adalah suatu cara menipu berbagai keinginan yang cuma sebentar untuk melebih-lebihkan keinginan, agak mirip dengan efek air laut pada saat kita haus. Apa bila saya ingin melihat seorang teman, saya membuatnya muncul sebagai suatu ketidakriilan. Inilah salah satu cara bermain dalam memuaskan keinginan saya.

Saya melakukan ini hanya karena teman

Tetapi saya melakukan hal ini hanya karena teman saya, sesungguhnya tidak ada disana dalam realitas. Saya tidak memberikan apapun pada keinginan itu lagi. Lagi pula keinginan itulah yang terutama membentuk objek dalam tingkatan kearah mana keinginan memproyeksikan objek yang tidak riil didepannya, ke arah mana keinginan itu menentukan dirinya sendiri sebagai keinginan yang lain. Mula-mula hanya temanlah yang ingin saya lihat. Tetapi keinginan saya berubah menjadi suatu keinginan yang menginginkan senyumannya, suatu keinginan fisiognomi.

Keinginan itu kemudian membatasi sekaligus melebih-lebihkan diri sendiri pada saat yang sama, dan objek yang tidak riil itu betul-betul merupakan setidak-tidaknya sejauh aspek aktualnya diperhatikan pembatasan dan penambahan keinginan tersebut. Keinginan itu tidak lain merupakan khayalan semata-mata dan dalam tindakan imajinatif keinginan itu menghidupi dirinya sendiri. Lebih tepatnya objek sebagai sebuah imaji adalah sebuah keinginan yang terbatas, ia mengambil bentuk sebagai sebuah rongga, sebuah ruang. Dinding putih sebagai sebuah imaji adalah sebuah dinding yang absen dari persepsi.

Dia merupakan makhluk hidup

Kita tidak bermaksud mengatakan bahwa teman sendiri adalah tidak rill. Dia merupakan makhluk hidup yang bertulang dan berdaging, yang pada detik ini sedang berada didalam ruangannya. Intensi imajinatif yang menangkapnya adalah sama-sama riil, juga sama seperti analog yang menggerakkan efektif yang dihidupkan oleh intensi-intensi itu. Juga tidak bisa diasumsikan bahwa ada dua orang teman.

Teman yang riil tinggal disini dan teman yang tidak riil yang merupakan korelatif kesadaran aktual saya. Satu-satunya teman yang saya tahu dan saya bayangkan adalah teman yang riil, teman yang benar-benar tinggal didalam ruangan yang riil disini. Oleh karena itu, temanlah yang saya bangkitkan dan yang muncul dihadapan saya.

Tetapi ia tidak tampil di hadapan saya di sini. Dia tidak berada di dalam ruangan, tempat saya sedang menunggunya pada detik ini. Dia muncul pada saya dalam ruangannya yang riil, di dalam ruangan di mana dia sungguh-sungguh ada di dalamnya. Namun dalam hal itu, dapat dikatakan bahwa dia tidak lagi tidak riil.

Harus membuat diri kita sendiri

Kita harus membuat diri kita sendiri merasa jelas teman dan ruangannya nyata seperti apa adanya disini, berjarak sangat dekat dari tempat saya berada saat ini, tidak lagi berada dalam jarak yang muncul pada saya detik ini. Sekalipun saya berpikir dalam memproduksi sebuah imaji tentang teman saya. Sayang sekali dia tidak berada di sini, itu tidak berarti bahwa saya membuat perbedaan antara teman sebagai imaji dan teman yang bertulang daging.

Hanya ada satu teman dan dia adalah betul-betul teman yang tidak berada di sini, tidak berada di sini adalah kualitas esensialnya untuk sejenak teman muncul pada saya sebagai teman yang berada di jalan yaitu menjadi teman yang tidak hadir. Dalam ketidakhadiran teman ini, ketidak hadiran yang saya lihat langsung, yang membentuk struktur esensial imaji saya, adalah betul-betul suatu nuansa yang mewarnai imaji tersebut secara lengkap dan inilah yang kita sebut ketidak realitasannya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel