Imajinasi dan Persepsi

Imajinasi dan Persepsi

Pada bagian artikel ini telah diperlihatkan berbagai kesulitan yang ditimbulkan oleh setiap usaha untuk menginterpretasikan persepsi sebagai campuran sensasi-sensasi dan imajinasi. Sekarang kita mengerti mengapa teori-teori ini tidak dapat diterima, bagi imajinasi dan persepsi tersebut. Jauh dari menjadi dua faktor psikis yang elementer dari kualitas yang serupa dan yang benar-benar memasuki kombinasi yang berbeda, menggambarkan dua prilaku kesadaran utama yang tidak dapat dikurangi. Keduanya selanjutnya mengesampingkan satu sama lain. Telah dikatakan bahwa ketika teman dibayangkan sebagai imajinasi dengan perantaraan sebuah gambaran, itu berarti bahwa lukisan yang menjadi sarana terciptanya imajinasi teman tidak lagi terasakan.

Struktur Imajinasi

Tetapi struktur imaji yang disebut"mental" sama dengan imajinasi-imajinasi yang analognya eksternal, formasi sebuah kesadaran imajinatif disertai dalam kasus ini dan sebelumnya oleh penghapusan kesadaran perseptual dan sebaliknya. Sejauh saya sedang melihat pada meja ini saya tidak dapat membentuk imaji tentang teman, tetapi kalau teman yang tidak nyata itu muncul di hadapan saya dengan tiba-tiba, meja yang tadi berada di depan mata saya lenyap meninggalkan tempat itu. Dua objek ini meja yang nyata dan teman yang tidak nyata bisa bergantian hanya sebagai korelatif berbagai kesadaran yang sangat berbeda dalam keadaan seperti ini, bagaimana kemudian imajinasi bisa bekerja sama untuk membentuk persepsi itu?

Lebih Merasakan

Akhirnya jelas bahwa selalu lebih merasakan daripada melihat. Fakta yang tidak dipersoalkan lagi inilah dan yang bagi kita tampaknya membentuk struktur persepsi yang coba dijelaskan oleh para psikolog masa lalu dengan memperkenalkan imaji ke dalam persepsi, yaitu dengan beranggapan bahwa kita melengkapi materi yang sangat berkaitan dengan pancaindera dengan cara memproyeksikan kualitas-kualitas tidak riil pada objek-objek tersebut. Penjelasan ini biasanya memerlukan posibilitas suatu asimilasi antara imajinasi dan sensasi, setidak-tidaknya secara teoretis. Apabila itu benar seperti yang telah kita perlihatkan bahwa di sini hipotesis lain.

Kita akan membatasi diri ada menunjukkan arah-arah riset yang mungkin. Pertama-tama, karya-karya koehler, wertheimer dan koffka selanjutnya akan memungkinkan kita untuk dapat menjelaskan kesatuan-kesatuan konstan tertentu yang menyimpang dari persepsi dangan struktur formal yang terus-menerus selama perubahan posisi kita. Sebuah kajian yang mendalam dan menyeluruh mengenai bentuk-bentuk ini tidak pelak lagi akan memungkinkan kita untuk memahami mengapa kita merasakan dalam cara yang berbeda dari pada kita melihat.

https://www.sukaratu.com/2021/08/imajinasi-dan-persepsi.html

Sekarang kita harus menjelaskan mengapa persepsi mengandung lebih banyak. Permasalahannya akan menjadi lebih sederhana kalau kita secara definitif menghentikan akal sehat yang kita tahu sebagai sensasi murni.

Persepsi Adalah

Kita lalu dapat menggatakan dengan husserl, bahwa persepsi adalah sebuah tidakan yang menyebabkan kesadaran menempatkan dirinya dalam kehadiran objek yang temporal spasial. Kini sejumlah intensi murni yang tidak memposisikan objek-objek baru tetapi yang menentukan objek yang hadir itu sehubungan dengan aspek-aspek yang sekarang tidak terlihat memasuki pembentukan objek.

Misalnya sangat dipahami bahwa asbak yang berada di hadapan saya ini memiliki dasar bahwa asbak tersebut bertakhta di atas dasar ini di atas meja, bahwa dasar ini terbuat dari porselin putih dan sebagainya. Kenyataan-kenyataan yang beraneka ragam ini diturunkan baik dari pengetahuan yang bersifat membantu ingatan maupun dari kesimpulan-kesimpulan predikatif sebelumnya.

Tetapi apa yang harus kita perhatikan dengan baik adalah pengetahuan ini, apapun sumbernya tetap tidak terbentuk bukan bahwa pengetahuan itu tidak sadar tetapi ia berpaku pada objek itu, ia berakar pada tindakan persepsi itu. Yang dibayangkan adalah bukan aspek objek yang tak terlihat itu sendiri melainkan aspek benda yang terlihat yang merupakan korespondensi atas dari asbak tersebut mengimplikasikan keberadaan sebuah "dasar".

Jelas sekali bahwa intensi-intensi inilah yang mensuplai persepsi dengan kepenuhan dan kekayaannya. Tanpa intensi-intensi itu yang betul-betul diamati oleh husserl, isi-isi mental tetap"anonim". Tetapi intensi-intensi tersebut tidak terlalu heterogen dalam kesadaran imajinatif, intensi-intensi itu tidak terformulasikan tidak memposisikan apapun dan membatasi diri pada memproyeksikan ke dalam objek sebagai kualitas-kualitas struktur yang sedang terbentuk yang hampir tidak tertentukan semua kecuali posibilitas-posibilitas yang mungkin dari perkembangan seperti kenyataan bahwa sebuah kursi harus mempunyai dua kaki lain selain kedua kakinya yang terlihat, bahwa ornamental permadani hiasan dinding harus melebar di belakangn lemari dinding, bahwa pria yang saya lihat dari arah belakang juga harus terlihat dari arah depan dan sebagainya.

Terlihat bahwa apa yang terlibat di sini bukan merupakan sebuah imajinasi yang telah jatuh kedalam keadaan yang tidak sadar juga bukan merupakan sebuah imajinasi yang sudah lemah. Intensi-intensi ini tak pelak lagi dapat menimbulkan berbagai imaji dan inilah sumber utama dari kesalahan yang telah kita kemukakan. Intensi-intensi tersebut menjadi syarat dasar bagi setiap imajinasi yang menyangkut objek-objek persepsi dalam pengertian di mana pengetahuan merupakan syarat bagi imajinasi-imajinasi yang sesuai.

Hanya saja apabila saya ingin menggambarkan permadani hiasan dinding di belakang lemari bagi saya sendiri, Intensi-intensi murni yang terimplikasikan dalam persepsi dari ornamental yang dapat dilihat tersebut akan melepaskan dari siri sendiri, memposisikan diri untuk dirinya sendiri, menurunkan diri sendiri, memposisikan diri untuk dirinya sendiri, menurunkan diri sendiri.

Pada saat yang sama intensi-intensi itu berhenti menandakan diri pada tindakan perseptual dan menjadi tindakan sui generis kesadaran. Demikian pula dengan ornamental yang tersembunyi tidak lagi akan menjadi kualitas ornamental yang dapat dilihat, yaitu yang memiliki suatu sambungan, sesuatu yang berkesinambungan tanpa interupsi. Tetapi intensi-intensi itu akan tampil sedikit terisolasi dari kesadaran sebagai sebuah objek yang mandiri. Oleh karena itu, dalam persepsi terdapat daya tarik suatu ketidakterbatasan imaji, tetapi hal ini hanya akan terjadi dengan mengorbankan penghapusan kesadaran perseptual.

Dapat diringkaskan bahwa perilaku imajinatif menggambarkan suatu fungsi khusus dari kehidupan mantal. Apa bila imajinasi seperti itu muncul sebagai pengganti kata-kata sederhana, pikiran-pikiran verbal ayau pikiran-pikiran murni, imajinasi itu tidak pernah merupakan akibat dari asosiasi yang kebetulan, ia selalu merupakan suatu perilaku inklusif dari sui generis yang bermakna dan berguna. Absurd untuk dikatakan bahwa sebuah imajinasi bisa merusak atau mengawasi pikiran atau hal ini kemudian harus dipahami bahwa pikiran melukai dirinya sendiri, kehilangan dirinya dalam tikungan-tikungan dan jalan-jalan kecil yang mengimplikasikan bahwa sesungguhnya relasi antara spesies dan jenislah yang digolongkan.

Pikiran mengambil bentuk imajinasi pada saat pikiran ingin menjadi intuitif pada saat ia ingin mendasarkan penegasannya pada penglihatan sebuah objek. Dalam hal itu, pikiran berusaha untuk memunculkan objek itu di hadapannya agar bisa melihat objek itu atau untuk memilikinya. Akan tetapi, upaya ini di mana semua pikiran berisiko untuk berhenti, selalu sia-sia. Objek-objek ini menjadi terpengaruh oleh karakter ketidakriilan. Ini berarti bahwa perilaku kita di hadapan imajinasi sangat berbeda dengan perilaku kita di hadapan objek-objek.

Cinta, benci, nafsu, dan keinginan adalah cinta palsu, benci palsu, nafsu palsu dan lain-lain, karena pengamatan terhadap objek yang tidak riil adalah suatu pengamatan pura-pura. Perilaku terhadap yang tidak nyata inilah yang sekarang menjadi subjek kajian kita dengan judul Kehidupan Imajiner.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel