Pamrih atau Minta Bantuan

Pamrih atau Minta Bantuan
https://www.sukaratu.com/2021/07/pamrih-atau-minta-bantuan.html

Beberapa waktu lalu temanku datang padaku dan mengeluh betapa dirinya merasa tidak dihargai olehnya. Ia mengingatkanku pula akan orang-orang yang juga pernah mengeluhkan hal serupa. Pikiranku ke mana-mana sembari mendengarkan temanku mengeluh, seiring banyaknya ingatan-ingatan yang mulai kembali masuk.

Hal yang paling hangat yang masih kuingat adalah saat aku menceritakan keluhanku dan meminta pertolongan tetapi tidak didengar dan temanku tidak memberikan masukan yang aku butuhkan. Jadi, aku berhenti melamun dan kembali fokus mendengarkan keluhan temanku tentang kekasihnya. Setelah selesai aku bertanya apa yang membuatnya merasa diabaikan dan tidak dihargai.

Dia bilang, karena kekasihnya menganggap apa yang dia lakukan biasa saja, atau tidak ada ungkapan terimakasih atau ungkapan sayang. Hal seperti itu tidak terjadi sekali, hingga merambat ke hal lain, kekasihnya jarang mengucapkan ungkapan sayang."Karena aku ingin dianggap sesekali apa bukan mengungkapkan rasa sayang. Padahal aku sering melakukan itu untuknya".Sesuatu muncul di kepalaku.

Aku bertanya lebih lanjut apa alasan temanku ini menyampaikan ungkapan sayang yang biasa ia lakukan pada kekasihnya itu."Tentu saja untuk menyenangkannya". Kubilang, "Dia sudah senang bukan? Tugasmu berhasil, lalu kenapa kau masih marah padanya?'Dia diam sebentar, sebelum akhirnya menjawab. "Aku akan tahu dia senang jika dai sudah membalas ucapanku."Jawaban ini terdengar cukup menggelitik di kepalaku.

Obrolan lebih jauh itu mengarahkan kami pada pernyataan yang jarang bisa diakui banyak orang, bahwa ternyata rasa diabaikan seringnya datang dari rasa pamrih. Kebiasaan kita membuat terkesan dalam pekerjaan, pertemanan, hubungan percintaan, dan apa pun yang berkaitan dengan kegiatan bersama orang lain selalu membutuhkan sebuah pengakuan yang bersifat apresiasi atau timbal balik yang menyerupai.

Bagaimana jika, apa pun yang kita lakukan demi seseorang teman, bos , kekasih, orangtua, semata-mata memang untuk menyenangkan mereka, untuk membuat diri kita merasa baik dengan melakukan sesuatu untuk orang lain? Sudah sampai situ saja, seolah-olah memberikan versi terbaikmu untuk seseorang memang sudah kebiasaanmu bukan beban.Bayangkan kau selalu tersenyum seburuk apa pun seseorang telah mengabaikanmu, mereka akan kebingungan dari mana kekuatan itu kau dapatkan.

Dan kita takkan lagi merasa diabaikan, lalu bersiaplah untuk hebat!Namun, ada beberapa hal yang perlu dimengerti juga tentang perilaku pamrih. Ada pamrih yang digerakian oleh sebuah kebutuhan yang selama ini direpresi atau ditekan. Entah secara sengaja oleh kita atau oleh keadaan yang tidak kita inginkan. Beberapa melakukan sesuatu pada orang lain sebagaimana ia inginkan.

Beberapa melakukan sesuatu pada orang lain sebagaimana ia inginkan ada orang melakukan hal-hal tertentu padanya. Mirip seperti bagaiman orang bisa memberi sesuatu begitu sering atau secara banyak, karena ia percaya bahwa hal yang selama ini ia butuh akan datang dari apa pun yang ia berikan. Kadang pada keadaan tertentu seseorang sulit menyampaikan kebutuhan yang perlu ia miliki, ia tak mampu meminta bantuan secara langsung melainkan dengan membantu orang juga padaku".

Seperti menemani afeksi atau menyemangati orang yang mengalami kegagalan. Ia berharap saat ia mengalami hal yang serupa orang dapat memperlakukannya sebagaimana ia telah mencontohkan (melakukan hal baik pada orang) sebelumnya.Aku mengerti, kan malu juga jika kita mengatakan "Aku ingin kau melakukan ini, ini, ini saat aku sedang bersedih atau sedang kesal."Kita takut dianggap menuntut.

Padahal kita berhak kmenuntut beberapa hal (meskipun aku juga sulit melakukan itu. Uhuy!). Tidak semua orang mengerti"kode",mereka bukan programmer.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel