Ikan Asin Genteng, Pusakaratu, Subang, Jawa Barat

Genteng adalah Kampung nelayan tradisional. Selain masyarakatnya sebagai nelayan, genteng juga temat industri perumahan yang menghasilkan ikan, tarasi dan ikan asin. Yang terletak di Kampung Gendeng, Desa Patimban, Kecamatan Pusakaratu, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Indonesia.

Ikan Asin Genteng, Pusakaratu, Subang, Jawa Barat

https://www.shutterstock.com/image-photo/traditional-drying-process-salted-fish-only-1880893837

stock-photo-the-traditional-drying-process-of-salted-fish-only-relies-on-the-hot-sun-1880893837 | Azot Susila

Pada kesempatan kali ini yang akan saya bahas adalah ikan dan proses pembuatan ikan asin. Ikan merupakan sumber vitamin, protein dan juga lemak yang terdapat pada makhluk hidup berasal dari laut. Yang umumnya dimakan oleh masyarakat umum, sesrta mudah didapatkan, sangat cocok untuk keluarga sederhana.

Namun demikian, ikan dengan cepat mengalami siklus pembusukan kualitas dan kemunduran, yang terjadi setelah ikan diperoleh yang berdampak pada kegagalan untuk memproses ikan asin.

Namun tidak kawatir ikan yang mulai mumbusuk bisa di jadikan bahan tarasi. Faktor paling utama dalam kegagalan pada ikan asin yaitu pada masa penghujan. Karena nelayan lokal desa grnteng tidak mempunyai alat pengering ikan asin secara modern. Dikarenakan untuk membeli alat tersebut sangatlah mahal harganya.

Sama halnya untuk membuat ruang pengasapan pun harus memiliki banyak biyaya. Sejalan dengan itu, perlindungan ikan harus diketahui dari semua lapisan masyarakat. Yaitu dari masyarakat kalangan paling bawah, menengah dan masyarakat dari kalangan teratas.

Pengamanan ikan secara konvensional berarti kurangi isi air dalam badan ikan, Yaitu dengan cara menindih ikan tersebut dengan batu pada saat perendaman untuk pengasinan. Sehingga tidak memberikan peluang pada organisme mikroskopis. Dan juga untuk mendapatkan hasil pengamanan yang bagus, diperlukan perlakuan yang baik selama siklus perlindungan.

Misalnya menjaga kebersihan gubuk atau gudang untuk tempat menyimpanan ikan dan garam, menjaga kebersihan bahan dan peralatan, selalu menggunakan ikan yang baru di tangkap dan membersihkan garam sebelum digunakan. Ada berbagai macam cara membuat  ikan asin, diantaranya adalah sebagai berikut:

Tentunya cara yang pertama yaitu memilih ikan. Maksud dari memilih ikan di sini untuk memisahkan ikan dari adanya benda lain yang terjaring bersamaan denngan ikan; Seperti sampah, ubur-ubur, serta lainnya, sekaligus memisahkan jenis-jenis ikan dan udang.

Dengan maksud memilih bahan ikan yang kiranya akan di olah menjadi ikan asin. Dikarenakan permintaan dari konsumen sangatlah beragam. Sebelum memilih ikan untuk di asin, tentunya menyiapkan perahu dahulu untuk menangkap ikan. (pengolahan ikan asin tidak akan terlaksana jika perahunya mogok).

https://www.dreamstime.com/boat-owned-traditional-fishermen-genteng-village-rancadaka-patimban-pusakaratu-sukaratu-pusaka-jaya-fishing-west-java-image205994941

boat-owned-traditional-fishermen-genteng-village-rancadaka-patimban-pusakaratu-sukaratu-pusaka-jaya-fishing-west-java-205994941 | Azot Susila

Pengerokan sisik ikan

Dimulai dengan pengerokan sisik pada ikan, supaya pada saat proses perendaman, garam akan mudah meresap dalam pori-pori daging ikan. Perlu dicoba proses pengasinan ini betujuan buat pengawetan natural, serta membuat ikan tersebut berasa asin. Proses belek/belah ikan harus tau caranya dahulu. Supaya hasil belekannya bagus, apik dan juga bersih. Belekan yang benar diawali dari punggung ikan bukan diawali dari perut ikan.

Sehabis itu, di perlukan pembersihan untuk membuang kotoran yang terdapat pada perut ikan. Proses ini sangat berarti untuk menghindari bau yang berasal dari kotoran yang berada pada perut ikan tersebut. Metode belekan atau belahan yang baik merupakan melaksanakan pemisahan mulai dari bagian kepala sampai bagian ekor ikan.

Jangan sampai terpisah menjadi dua bagian. Karena, supaya ikan tersebut akan terlihat lebih besar dan lebar. Dan untuk ketebalan pada daging ikan pun akan terasa lebih tipis. Sehingga untuk proses pengeringan pun bisa lebih bagus dan cepat. Serta untuk menghasilkan rasanya supaya gurih dan renyah.

Untuk proses penggaraman sangatlah mudah untuk dilakukan. Siapkan wadah untuk menapung air. Jangan lupa airnya harus bersih. Untuk ukuran airnya adalah 85% dan untuk garamnya adalah 15%. Untuk ukuran tersebut masih bisa di ubah, disesuaikan dengan permintaan pelanggan.

Takaran tersebut adalah ukuran ikan asin yang biasa saya jual, Sedangkan setiap daerah memiliki ciri khas tersendiri dalam pengolahan ikan asin, bukan tanpa alasan. Dengan adanya ciri khas untuk mempertahankan tradisi dan untuk ciri khas dari daerah mana ikan asin berasal.

Sedangkan untuk menjaga kualitas ikan asin, air dan garam yang sudah digunakan, jangan di gunakan lagi, gunakanlah air dan garam  satu kali untuk satu perendaman, ikan diusahakan terendam dengan baik harus benar- benar semuanya tenggelam dalam air dan untuk memastikan bahwa ikan yang direndam tidak mengambang lagi kepermukaan air, di atas rendaman tersebut dikasih tumpukan batu guna menahan ikan supaya tidak bisa mengambang.

Gunakan waktu perendaman satu malam saja dan pagi harinya di untuk di jemur, sebelum dijemur bilas dahulu ikannya untuk menghilangkan kotoran yang masih menempel pada ikan dan hasil nyapun akan lebih bening ketimbang ikan yang tidak di bilas dahulu ketika akan di jemur.

Untuk ciri sangat mudah, jika ikan asin tersebut terlihat kusem berarti tidak melakukan pembilasan ketika akan di jemur, jika ikan asin terlihat kincong berarti melakukan proses pembilasan dahulu sebelum di jemur. Jangan kawatir walau pun melakukan pembilasan ikan tersebut masih terasa asin karena kadar garam sudah meresap ketika melakukan perendaman.

RELATED:

Nelayan genteng tidak menggunakan formalin

Ikan asin yang ada di genteng sama sekali tidak menggunakan pemanfaatan formalin. Walau pun pemanfaatan formalin dengan alasan dapat mengeluarkan kekuatan ikan asin.Teknik pengamanan ini adalah pendekatan yang paling tidak menuntut untuk menyelamatkan tangkapan para nelayan. Dengan penggaraman siklus kerusakan dapat dikendalikan sehingga ikan dapat lebih banyak disisihkan.

Pemanfaatan garam sebagai bahan tambahan pada dasarnya sangat bergantung pada kemampuannya untuk menghambat perkembangan bakteri dan aksi senyawa yang menyebabkan pembusukan pada bagian ikan. Ikan merupakan salah satu bahan pangan yang umumnya dikonsumsi masyarakat selain sebagai temannya nasi.

Ikan mengalami siklus pembusukan yang cepat dibandingkan denganbahan makanan lainnya. Organisme mikroskopis serta pergantian substansi pada ikan mati menimbulkan pembusukan. Dengan adanya kita mengkonsumsi ikan asin, bahwa ikan memiliki nilai protein yang tinggi dan kandungan lemak yang rendah. Sehingga memberikan banyak keuntungan untuk kebutuhan tubuh.

Nelayan yang ada di Genteng/kampung genteng, jika ikan mulai membusuk masih bisa dimanfaatklan sebagai bahan utuk pembuatan bahan tarasi, jadi ikan tersebut masih bisa di olah karena memang seperti itu proses pembuatan tarasi terjadi karena sengaja di lakukan pembusukan ikan dan udang. Dikarekan ikan yang mulai membusuk bisa digunakan sebagai bahan untuk pembuatan tarasi.

Sifat ikan olahan bergantung pada sifat bahan mentahnya. Ikan merupakan sumber protein makhluk hidup yang dikonsumsi secara luas oleh masyarakat pada umumnya mudah didapatkan dan sederhana. Sedangkan cara untuk penyajian ikan banyak cara yang berbeda, dan rasanya membuat individu melahap lebih banyak ikan asin. Ikan asin merupakan makanan kokoh yang disiapkan dengan cara digarami dan dikeringkan.

Tempat penjemuran ikan asin

Cari tempat yang kosong. Tempat yang lebih aman dan ekonomis adalah tanggul atau pinggiran kali dan irigasi. Dikarenakan tempat tersebut tidak diperjual belikan ataupun disewakan. Kemudian buat tempat untuk meletakan ikan untuk penjemuran. Tempat untuk meletakan ikan asin tersebut dapat terbuat dari bahan kayu dan anyaman bambu. Kemudian letakan ditempat yang terpapar sinar matahari yang kiranya sampai sore.

Untuk mengeringkan ikan tersebut dengan cara di baris kan secara rapi supaya sekitar daging ikan asin bisa terserang cahaya matahari dengan baik serta merarata. Jangan lupa untuk membalikan ikan tersebut satu persatu di saat kiranya sudah setengah main atau pada tengah hari supaya mendapatkan hasil pengeringan yang merata di seluruh bagian ikan asin.

Pengeringan dengan cara dijemur. Proses ini ialah tahapan yang sangat berarti. Apa bila proses penjemuran kandas, sehingga ikan yang sudah diasinkan tidak akan bisa kering secara optimal serta hasilnya hendak kurang baik. Sebaiknya ikan asin dikemas dahulu sebelum di jual.

Ini merupakan proses terakhir dari pembuatan ikan asin, untuk membungkus ikan asin  gunakan palstik sesuai ukuran wajib baru berguna untuk menjaga kesehatan serta kebersihan konsumen. Kemudian rapatkan plastik secara betul- betul rapat. Supaya menjauhi masuknya angin, lalat dan lainnya yang nantinya akan menyebabkan penyakit bagi konsumen.

Pastikan didalam plastik hanya ada ikan asin jangan sampai karena keteledoran benda yang tidak lajim terbungkus bersama ikan asin misalnya; rambut, blatung ikan atau lalat yang nantinya pelanggan berkesan jorok pada kita. Pengalaman yang saya alami seperti itu ada blatung di dalam plastik bersama ikan.

Padahal itu menandakan ikan asin yang saya bawa natural tanpa adanya formalin, menurut saya ikan asin akan sedap jika terasa bau ikannya dan ciri ikan asin dan tarasi itu bau.

Lalu bagaimana akan bau jika ikan asinnya campur formalin.Indonesia sendiri ikan asin sebenarnya memiliki keadaan yang signifikan sebagai salah satu kebutuhan pokok hidup sebagian individu. Meski pun ikan asin terkenal di jaringan.

Kebetulan informasi masyarakat tentang ikan asin dilindungi dan bermanfaat untuk pemanfaatannya. Verifikasinya, ikan asin yang mengandung formalin umumnya masih diangkut dan dibakar, padahal efeknya tidak menguntungkan bagi kesehatan.

RELATED:

Sekian pembahasan ikan asin hasil produksi genteng, semoga bermanfaat bagi pembaca.

0 Response to "Ikan Asin Genteng, Pusakaratu, Subang, Jawa Barat"

Post a Comment

Postingan Populer

WARKAT

Kita harus fokus dan fokus pada saat sedang dilanda rintangan, alangkah baiknya jika api di dalam hati dipadamkan, itu hanya mempersulit hasil dari perbuatan jahat.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel