Tiga kondisi kebahagiaan seorang hamba

Tiga kondisi kebahagiaan seorang hamba

Tiada daya dan upaya kecuali milik Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung. Hanya Dialah tempat kita meminta dan berharap agar Dia melindungi kita di dunia dan di akhirat. Juga agar mencurahkan nikmat-Nya baik yang lahir maupun batin. Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang yang jika diberi nikmat bersyukur, jika di beri cobaan bersabar, dan jika berdosa meminta ampun. Tiga hal inilah sebagai pertanda kebahagiaan seorang hamba dan tanda kemenangannya di dunia dan akhirat. Tidak akan ada seorang hamba pun yang terhindar dari tiga hal tersebut. Pada hakikatnya, kondisi seorang hamba selalu berganti-ganti antara ketiga tingkat itu. Tiga kondisi kebahagiaan seorang hamba adalah sebagai berikut:

1. Mensyukuri Nikmat

Nikmat-nikmat Allah selalu silih berganti dianugerahkan kepada hamba-Nya. Kemudian sebagai pengikat nikmat tersebut adalah dengan mengungkapkan rasa syukur yang didirikan atas tiga asas. Yaitu, dengan mengakui nikmat yang telah di berikan dalam batin, menceritakannya dalam zahir, dan mengungkapkannya sesuai dengan kehendak Yang Memberi Nikmat. Jika seorang hamba telah menunaikan ketiga hal tersebut, berarti ia telah bersyukur, meskipun rasa syukur nya masih dalam makna terbatas.

https://www.percetakansukawera.com/2020/06/tiga-kondisi-kebahagiaan-seorang-hamba.html
Tiga kondisi kebahagiaan seorang hamba.html

2. Sabar Dalam Ujian Dan Cobaan

Apabila seorang hamba mendapat ujian dari Allah, maka yang di tuntut adalah agar ia bersabar dan berusaha menghibur diri. Sabar adalah menahan diri dari sifat membenci atas takdir-Nya, dan menahan lisan dari ungkapan keluh kesah. Juga menahan anggota badan dari perbuatan maksiat seperti menampar pipi, menyobek pakaian, mencabut rambut, dan perbuatan tercela lainnya.

Dari sini dapat kita tarik kesimpulan bahwa arti sabar berkisar antara tiga hal di atas. Jika seorang hamba telah benar-benar melaksanakan tiga hal tersebut sebagaimana mestinya, maka ujian yang ia alami akan menjadi sebuah anugerah dari sisi Allah. Derita yang menimpanya akan di ganti dengan pemberian berharga. Hal yang tidak ia senangi nya menjadi ia senangi. Karena, sesungguhnya Allah mengujinya bukan untuk mencelakakan nya, tetapi menguji kesabarannya dan menakar kualitas penghambaannya.

Allah mempunyai hak terhadap hamba-Nya yaitu hak penghambaan, baik itu di saat kesempitan maupun di saat lapang. Dia mempunyai hak penghambaan di saat seorang hamba dalam kesusahan, sebagaimana Dia mempunyai hak penghambaan dari hamba-Nya di saat ia senang. Sementara, kebanyakan manusia hanya mampu menampakkan bentuk penghambaannya di saat ia senang saja. Padahal, rasa penghambaan sangat di tuntut tatkala seorang hamba dalam keadaan yang tidak ia senangi. Dalam hal ini, ada beberapa peringkat hamba. Dengan peringkat tersebut seorang hamba akan di ukur kedudukannya di sisi Allah.

Berwudhu dengan air dingin di saat hari yang sangat panas, adalah salah satu bentuk aplikasi penghambaan. Mendatangi istrinya yang cantik dan tercinta adalah salah satu bentuk aplikasi penghambaan. Memberi nafkah untuk istri, keluarga, dan dirinya sendiri adalah salah satu bentuk aplikasi penghambaan. Begitulah seterusnya.

Dari titik tolak ini dapat kita pahami juga bahwa berwudhu dengan air dingin di musim yang sangat dingin, juga merupakan salah satu bentuk aplikasi ubudiah (penghambaan). Meninggalkan maksiat yang dengan kuat mendorongnya untuk melakukan hal itu, bukan karena takut di lihat oleh manusia, adalah salah satu bentuk aplikasi ubudiah. Mengeluarkan infak dan sedekah da saat kesempitan melilit dirinya adalah salah satu bentuk ubudiah. Tetapi, akan kita temukan di sana ada perbedaaan yang sangat mencolok antara dua bentuk ibadah tersebut.

Barang siapa yang menempatkan diri sebagai hamba Allah pada dua kondisi tersebut, dengan benar-benar menunaikan haknya secara sempurna, maka mereka itu akan menjadi sosok hamba seperti yang disinggung dalam firman-Nya:

"Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya (abdihi)."[az-Zumar:36]

Dalam riwayat lain "abdihi"di baca dengan jamak (plural), sehingga bacaannya menjadi "ibaadihi". Kedua bacaan itu diperbolehkan. Karena pada hakikatnya kata tunggal di sini sebagai mudhaf, maka ia mencangkup keumuman makna jamak. Jaminan kecukupan akan datang dengan sempurna jika kualitas penghambaan seorang hamba diaplikasikan dengan sempurna pula. Sudah menjadi sebuah keniscayaan bahwa suatu pemberian yang kurang akan hadir seiring dengan kualitas pengabdian yang kurang.

Barang siapa yang mendapati nasib yang baik, hendaklah ia mengungkapkan pujian kepada Allah dengan mengucapkan Alhamdulillah. Barang siapa yang mendapatkan nasib selain itu, janganlah mencela kecuali dirinya sendiri. Jika seseorang telah mendapatkan jaminan kecukupan penuh dari Allah swt. maka merekalah hamba Allah yang sejati, yang tidak ada satu pun dari musuh-Nya mempunyai kekuasaan atas mereka. Allah swt. berfirman:

"Sesungguhnya hamba-hamba Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka."[al-Hijr:42]

Pintu-Pintu Setan

Tatkala iblis mengetahui bahwa Allah tidak akan menyerahkan hamba-Nya kepada iblis, dan iblis tidak akan mempunyai kuasa atasnya, maka iblis bersumpah,

"Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba Mu yang mukhlish di antara mereka (yaitu orang-orang yang telah di beri taufik untuk menaati segala petunjuk dan perintah Allah)." [Shaad: 82-83]

Allah juga berfirman:

"Sesungguhnya iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaan nya terhadap mereka lalu mereka mengikutinya, kecuali sebagian orang yang beriman. Dan tidak adalah kekuasaan iblis terhadap mereka, melainkan agar kami membedakan siapa yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat dan siapa yang ragu-ragu tentang itu." [Saba: 20-21]

Dengan demikian Allah tidak akan memberikan kesempatan kepada musuh-Nya untuk menguasai hamba-hamba Nya yang beriman. Karena, mereka selalu dalam lindungan Nya, naungan Nya, penjagaan Nya dan selalu di bawah curahan rahmat Nya.

Jika salah satu hamba Nya ada yang dapat di bunuh oleh musuh Nya, sebagai mana seorang pencuri membunuh seorang yang lalai dalam melindungi dirinya, maka sangat wajar. Karena, ketika itu menunjukan bahwa seorang hamba telah dikuasai oleh sifat lupa, dorongan syahwat, dan amarahnya. Keberhasilan setan untuk masuk ke dalam jiwa seorang hamba dari tiga pintu ini, walau pun telah di jaga dengan ketat, berarti tetap menunjukan kelalaian seorang hamba. Atau, karena jiwa orang tersebut telah di kuasai syahwat dan amarah hingga sangat mudah bagi setan untuk menguasai dan mengendalikannya semuanya.

/Tersenyumlah dan jangan bersedih/

Nabi Adam as. sendiri, sebagai nenek moyang manusia, adalah manusia yang paling lapang dada dan cerdas otaknya. Meskipun demikian, musuh Allah tetap menguntitnya sambai akhirnya Nabi Adam as. dapat terjatuh ke perangkap nya dalam keadaan sedemikian terhina. Apalagi dengan orang yang tidak bisa berlapang dada dan bersabar.

Barang siapa yang akal, kehendak, obsesi dan cita-citanya selalu mengekor dengan kendali akal nenek moyangnya, maka keadaan nya ibarat se tetes buih di tengah lautan. Tetapi, musuh Allah tidak akan mampu menggoda seorang mukmin yang sejati, kecuali hanya sesaat, yaitu saat ia terlupa. Sehingga ia terjerumus di dalamnya karena menganggap bahwa ia tidak akan bertemu Tuhan nya. Peristiwa sesaat itu akan di manfaatkan oleh setan untuk kemudian memaksa nya bertindak lebih jauh dan mencalakakannya. Padahal, jika seorang hamba sadar dan mengetahui hakikat semua ini, niscaya akan ia temukan bahwa anugerah, rahmat dan ampunan Allah akan selalu menyertai semua hal ini.

3. Tobat Dari Setiap Dosa

Jika Allah telah menghendaki hamba-Nya dengan suatu kebaikan, maka Dia akan membukakan pinti tobat baginya. Kemudian tumbuh lah penyesalan, pedih hati, perasaan hina disisi-Nya, dan perasaan selalu membutuhkan-Nya. Ia akan selalu memohon pertolongan-Nya, mengikat janji benar-benar akan kembali ke jalan-Nya, senantiasa memohon dan berdoa kepada-Nya dengan sungguh-sungguh. Juga mendekatkan diri kepada-Nya sebisa mungkin dengan amal-amal kebaikan yang dapat menghapus dosa-dosanya. Pintu itu akan menjadi sebab baginya untuk meraih curahan rahmat-Nya, sampai pada saatnya musuh Allah akan berkata,"Andai kata aku tinggalkan dia dan tidak menjerumuskannya."

Inilah barangkali makna ungkapan Ulama Salaf,"Sesungguhnya seorang hamba terkadang melakukan dosa yang menyebabkan ia di masukkan surga, dan melakukan amal kebaikan yang menyebabkan ia di masukkan neraka."

Mereka saling bertanya,"Mengapa bisa begitu? "Ia menjawab,"Ia melakukan dosa tetapi selalu terbayang di pelupuk matanya rasa takut kepada Allah, malu, selalu bergetar hatinya, berderai kedua matanya dengan tangis penyesalan dan rasa malu kepada Allah Ta'ala. Tunduk kepalanya dihadapan Sang Khalik dengan hati yang perih. Maka, dosa yang semacam ini lebih bermanfaat baginya dari pada amal ketaatan yang menggunung yang menyebabkan perkara ini sebagai sebab baginya untuk meraih kebahagiaan seorang hamba. Sehingga, dosa ini menjadi sebab baginya untuk masuk surga.

Sedangkan, mereka yang mengerjakan amal kebaikan tetapi masih senantiasa menyebut-nyebut amal tersebut di hadapan Tuhan nya dan merasa sombong, membanggakan dirinya dengan mengatakan,"Aku telah melakukannya, aku telah melakukannya".

Sampai kesombongan dan kebanggaan nya mengantarkannya ke jurang kehancuran. Kalau Allah menghendaki kebaikan pada hamba yang miskin ini, maka Dia akan menguji dengan suatu hal yang membuatnya merasa menyesal, hina dan rendah diri di hadapan-Nya. Dan jika Allah menghendakinya selain itu, maka Dia membiarkannya tetap dalam kesombongan dan kebanggaan nya. Inilah yang menyebabkan seorang hamba di terlantar kan oleh Allah hingga akhirnya ia berada pada jurang kehancuran.

/Jangan Menyesali Masa Lalu/

a. Sebab-Sebab Taufik dan Kegagalan Dari Allah

Para ahli makrifat telah sepakat bahwa taufik itu adalah suatu kondisi yang di situ Allah tidak akan membiarkan seorang hamba bersandar pada diri sendiri. Sedangkan kegagalan adalah suatu kondisi yang Allah akan memberikan seorang hamba bersandar kepada kemampuan dirinya sendiri.

Barang siapa yang di kehendaki oleh Allah suatu kebaikan, Dia akan membukakan pintu kehinaan dan hati yang pedih, serta jiwa yang selalu ingin kembali kepada Allah dan perasaan selalu membutuhkan-Nya. Juga di iringi dengan perubahan pribadinya yang menjadi sibuk melihat cacat dan kekurangan dirinya sendiri dengan selalu mengecam nya. Kemudian dihiasi suatu lembaran hidup baru dengan sebuah pengakuan bahwa betapa luas dan sangat banyaknya anugerah Allah dan kebaikan-Nya, rahmat dan kemuliaan-Nya, kekayaan dan pujian-Nya.

Seorang yang arif (yang telah dekat dengan Zat Allah) akan selalu berjalan menuju mihrab Allah di antara dua sayap ini, antara taufik dan kegagalan. Tidak mungkin baginya memilih yang lain kecuali harus berjalan antara dua jalan ini. Tatkala seorang hamba menjalani hidup ini dengan ketinggalan salah satu sayapnya, maka ia bagaikan seekor burung yang tidak dapat terbang dengan seimbang. Syekhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Seorang yang arif akan berjalan menuju Allah antara dua kondisi, menyaksikan anugerah yang dicurahkan Allah kepadanya dan selalu melihat cacat pada dirinya dan amalannya."

b. Pintu Terdekat Dengan Allah

Makna-makna ini merupakan penjabaran makna yang terkandung dari sabda Rasulullah saw. dalam sebuah hadis sahih dari Buraidah ra.,"Istigfar pamungkas adalah jika seorang hamba mengumandangkan lafal:

"Ya Allah Engkaulah Rabb ku yang tiada tuhan selain-Mu. Engkau telah menciptakan ku dan akulah hamba-Mu. Hamba terikat janji pada-Mu semampu hamba. Hamba berlindung dari segala amal kejelekan yang hamba perbuat. Hamba pasrah segala nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepada ku dan hamba pasrah kan segala dosa hamba. Ampunilah dosa hamba, karena sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau Ya Allah." (HR Bukhari dan Ahmad)

Dari sini dapat kita lihat bahwa dalam sabda Rasulullah saw.,"Hamba pasrahkan segala nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepada ku dan hamba pasrahkan segala dosa hamba," terkumpul dualisme pengakuan. Yaitu, antara pengakuan terhadap semua anugerah yang Allah curahkan kepada hamba-Nya dan pengakuan atas cacat dan kekurangan dirinya beserta amalnya.

Pengakuan atas anugerah yang Allah berikan akan mengantarkan seorang hamba pada nuansa cinta, puji-pujian dan rasa syukur kepada Yang Menganugerahkan nikmat dan kebaikan. Sedangkan, pengakuan atas cacat dan kekurangan diri dan kekurangan dalam beramal, akan mengantarkan seorang hamba pada perasaan hina di sisi-Nya, perih hati, merasa selalu butuh dan bertobat pada setiap waktu. Dalam kondisi seperti ini, ia tidak akan menampakkan diri kecuali sebagai hamba yang merugi, tidak mempunyai apa-apa.

Pintu terdekat bagi seorang hamba menuju Allah adalah dengan menghidupkan perasaan iflas 'bangkrut'.Ia tidak akan lagi memandang dirinya sebagai manusia yang pantas untuk dilihat, bukan manusia yang mempunyai kedudukan yang mulia, tidak memiliki sebab yang menjadikannya begitu mulia, atau di sana ada sebuah perantara yang membuatnya pantas untuk di puji. Dengan pintu ini, perasaan diri semata hanya membutuhkan-Nya dan menghidupkan perasaan iflas, seorang akan masuk kedalam nya bagaikan seorang fakir yang telah memuncak kefakiran nya. Atau, seseorang yang hatinya sedang meraung-raung minta di kasihani sedemikian rupa. Sehingga, perasaan tersebut menembus ke dalam lubuk hatinya yang paling dalam.

Sampai pada klimaksnya, perasaan itu akan menghantui seluruh jasadnya. Sehingga, ia merasa harus mengadukan semua kegelisahan ini kepada Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Mulia. Di setiap titik hatinya tidak lain hanya akan di penuhi dengan rasa selalu butuh terhadap pertolongan Allah semata. Jika ia lalai sekejap mata saja, ia akan celaka dan merugi yang tiada taranya, sampai ia kembali menjumpai dan menjemput rahmat Allah.

Tidak ada jalan yang paling dapat mendekatkan diri kepada Allah kecuali dengan mengaplikasikan nilai ubudiah (menghambakan diri sepenuhnya kepada Allah) yang sesungguhnya. Tidak ada penghalang yang paling tebal antara seorang hamba dengan-Nya, kecuali jika seorang hamba menggelar pengakuan palsu bahwa ia telah melakukan ketaatan kepada Allah, komitmen dengan perintah-perintah Nya. Sebuah pengakuan hanya di buktikan dengan lisan, sementara amal-amalnya bertolak belakang.

c. Makna Ubudiah

Makna ubudiah berkisar antara dua landasan pemikiran. Yaitu, cinta yang sepenuhnya dan kehinaan di sisi Allah yang sepenuhnya. Kedua asas ini merupakan perluasan dua makna yang telah di bahas di atas yaitu pengakuan atas anugerah dan nikmat Allah. Dengannya akan menimbulkan rasa cinta dan tumbuhnya perasaan bahwa dirinya serta amalnya selalu cacat dan kurang, yang menimbulkan rasa selalu hina di sisi-Nya.

Jika seorang hamba telah mendasarkan semua gerak langkah hidupnya menuju Allah dengan dua landasan ini, maka semua musuhnya tidak akan mampu menjerumuskannya kecuali hanya sekejap mata. Jika sudah demikian, akan ia saksikan alangkah cepatnya bantuan dan pertolongan Allah datang menjemputnya serta mencurahkannya kembali dengan rahmat-Nya.

Halaman:

  1. Ridha Terhadap Ketentuan Allah | Bersama Motor bodol
  2. Tuban Abu Mualak | Bocah Berbakti Kepada Orang Tua
  3. Asal Usul Sunan Apel | Kisah Wali Songo
  4. Hiduplah Sebagaimana Adanya | Motor Bodol
  5. Kakek Bantal
  6. Kisah Wali Songo | Penyebar Agama Islam di Tanah Jawa
  7. Tiga kondisi kebahagiaan seorang hamba
  8. Motor bodol untuk jarak jauh
  9. Sabar dalam menghadapi cobaan
  10. Pintu-pintu setan
  11. Obat sakit hati bisa dilakukan sendiri
  12. Hari Ini Milik Kita
  13. Kalimat motivasi untuk hidup lebih baik
  14. Jangan Risau dan Jangan Bersedih
  15. Tentukan Tujuan Hidup
  16. orang yang bahagi | happy person
  17. Ciri-ciri orang yang sengsara
  18. Meningkatkan kualitas diri
  19. Keutamaan Menuntut Ilmu
  20. Asal-Usul Syekh Siti Jenar
  21. Jangan Menyesali Masa Lalu
  22. Rahasia Bahagia | Kunci Bahagia
  23. Berpikir Dan Bersyukur
  24. Mush'ab bin Umair Duta Islam yang Pertama
  25. Salman Al Farisi Pencari Kebenaran
  26. Cara mempermudah bangun malam
  27. Cara Mengenali Nafsu
  28. Memerangi Nafsu Dengan Lapar
  29. Keutamaan Akhlak
  30. Rahasia Takdir
  31. Renungan Suci #1
  32. Renungan Suci #2
  33. Renungan Suci #3
  34. Ingin Kaya | Seriuslah Bekerja
  35. Biarkan Hari Esok Datang
  36. Tersenyumlah Dan Jangan Bersedih
Apakah menurut pembaca bermanfaat ?
Jika menurut pembaca tidak bermanfaat, saya mohon maaf  telah menyita waktunya.
Allah Maha Pemberi Maaf dan Maha Tau apa yang kita lakukan.

Popular posts from this blog

Mush'ab bin Umair Duta Islam Yang Pertama | 60 Sahabat Nabi Muhammad saw

Ridha Terhadap Ketentuan Allah | Bersama Motor bodol

Hiduplah Sebagaimana Adanya | Motor Bodol

Jangan Menyesali Masa Lalu

Asal Usul Sunan Apel | Kisah Wali Songo

Motor bodol untuk jarak jauh