Salman Al Farisi Pencari Kebenaran

60 Sahabat Nabi Muhammad saw

Siapakah Salman Al farisi itu ?

Salman Al Farisi adalah pencari kebenaran termasuk dari sejumlah tokoh utama yang muncul dalam dunia aqidah dan keimanan.

Perihidup Salman Al Farisi Pencari Kebenaran

60 Sahabat Nabi Muhammad saw.Salman Al Farisi Pencari Kebenaran

Dari persi . . . datangnya pahlawan kali ini. Dan dari persi Agama Islam nanti dianut oleh orang-orang Mukmin yang tidak sedikit jumblahnya, dari kalangan mereka muncul pribadi-pribadi istimewa yang tiada taranya, baik dalam bidang keilmuan dan keagamaan, maupun dalam ilmu pengetahuan dan keduniaan. Ia adalah sahabat Rasulullah saw. yaitu Salman Al Farisi.

Dan memang, salah satu dari keistimewaan dan kebesaran al-Islam ialah, setiap ia memasuki suatu negeri dari negeri-negeri Allah, maka dengan keajaiban luar biasa di bangkitkan nya setiap ke ahlian, di gerakannya segala kemampuan serta digalinya bakat-bakat terpendam dari warga dan penduduk negeri itu, hingga bermunculanlah filosof-filosof Islam, dokter-dokter Islam, ahli-ahli falak Islam, ahli-ahli fiqih Islam, ahli-ahli ilmu pasti Islam dan penemu-penemu mutiara Islam.....

Ternyata bahwa pentolan-pentolan itu berasal dari setiap penjuru dan muncul dari setiap bangsa, hingga masa-masa pertama perkembangan Islam penuh dengan tokoh-tokoh luar biasa dalam segala lapangan, baik cita maupun karsa, yang berlainan tanah air dan suku bangsanya, tetapi satu Agamanya.....

Dan perkembangan yang penuh berkah dari Agama ini telah lebih dulu diramalkan oleh Rasulullah saw., bahkan beliau telah menerima janji yang besar dari Tuhan nya Yang Maha Besar lagi Maha Mengetahui. Pada suatu hari di angkatlah baginya jarak pemisah dari tempat dan waktu, hingga disaksikan dengan mata kepala panji-panji Islam berkibar di kota-kota di muka bumi, serta di istana dan mahligai-mahligai para penduduknya.

Salman Al Farisi sendiri turut menyaksikan hal tersebut, karena ia memang terlibat dan mempunyai hubungan erat dengan kejadian itu. Peristiwa itu terjadi waktu perang Khandaq, yaitu pada tahun kelima Hijriah. Beberapa orang pemuka Yahudi pergi ke Mekah untuk menghasut orang-orang musyrik dan golongan-golongan kufur agar bersekutu untuk menghadapi Rasulullah saw., dan Kaum Muslimin, serta mereka berjanji akan memberikan bantuan dalam perang penentuan yang akan menumbangkan serta mencabut urat akar Agama baru ini.

Siasat dan taktik perang pun di atur secara licik, bahkan tentara Quraisy dan Ghathfan akan menyerang kota Madinah dari luar, sementara Bani Quraidlah (Yahudi) akan menyerang nya dari dalam_yaitu dari belakang barisan Kaum Muslimin_sehingga mereka akan terjepit dari dua arah, karenanya mereka akan hancur dan hanya tinggal nama belaka.

Demikianlah pada suatu hari Kaum Muslimin tiba-tiba melihat datangnya pasukan tentara yang besar mendekati kota Madinah, membawa perbekalan banyak dan persenjataan lengkap untuk menghancurkan. Kaum Muslimin panik dan mereka bagaikan kehilangan akal melihat hal yang tidak di duga-duga itu. Keadaan mereka dilukiskan oleh al-Qur'an sebagai berikut:

Ketika mereka datang dari sebelah atas dan dari arah bawahmu, dan tatkala pandangan matamu telah berputar liar, seolah-olah hatimu telah naik sampai kerongkongan, dan kamu menaruh sangkaan yang bukan-bukan terhadap Allah.(Q.S.al-Ahzab:10)

Dua puluh empat ribu orang prajurit di bawah pimpinan Abu Sufyan dan Uyainah bin Hishn menghampiri kota Madinah dengan maksud hendak mengepung dan melepaskan pukulan menentukan yang akan menghabisi Muhammad saw., Agama serta para sahabatnya.

Pasukan tentara ini tidak saja terdiri dari orang-orang Quraisy, tetapi juga terdiri berbagai kabilah atau suku yang menganggap Islam sebagai lawan yang membahayakan mereka. Dan peristiwa ini merupakan percobaan akhir dan menentukan dari pihak musuh-musuh Islam, baik dari perorangan, maupun dari suku dan golongan.

Kaum Muslimin menyadari keadaan mereka yang gawat ini, Rasulullah saw., pun mengumpulkan para sahabatnya untuk bermusyawarah. Dan tentu saja mereka semua setuju untuk bertahan dan mengangkat senjata, tetapi apa yang harus mereka lakukan untuk bertahan itu?

Ketika itulah tampil seorang yang tinggi jangkung dan berambut lebat, seseorang yang disayangi dan amat dihormati oleh Rasulullah saw., itulah dia Salman Al farisi! Dari tempat ketinggian ia melayangkan pandangan meninjau keadaan sekitar Madinah, dan sebagai telah dikenalnya juga didapatinya kota itu di lingkung gunung dan bukit-bukit batu yang tak ubah bagai benteng juga layaknya. Hanya di sana terdapat pula daerah terbuka, luas dan terbentang panjang, hingga dengan mudah akan dapat di serbu musuh untuk memasuki benteng pertahanan.

Di negerinya persi, Salman telah telah mempunyai pengalaman luas tentang taktik dan sarana perang, begitu pun tentang siasat dan liku-liku nya. Maka tampil lah ia mengajukan suatu usul kepada Rasulullah saw., yaitu suatu rencana yang belum pernah dikenal oleh orang-orang Arab dalam peperangan mereka selama ini. Rencana itu berupa penggalian khandaq atau parit perlindungan sepanjang daerah terbuka keliling kota.

Dan hanya Allah swt., yang lebih mengetahui apa yang akan terjadi di alami Kaum Muslimin dalam peperangan itu seandainya mereka tidak menggali parit dari usulan Salman tersebut.

Kaum Quraisy menyaksikan parit terbentang di hadapannya, mereka merasa terpukul melihat hal yang tidak di sangka-sangka itu, hingga kurang dari sebulan lamanya kekuatan mereka bagai terpukul di tenda-tenda karena tidak berdaya menerobos kota.

Dan akhirnya pada suatu malam Allah Ta'ala mengirimkan angin topan yang menerbangkan tenda-tenda dan memporakporandakan tentara mereka.

Abu Sufyan pun menyeru kepada anak buahnya agar kembali pulang ke kampung mereka . . . dalam keadaan kecewa dan berputus asa serta menderita kekalahan pahit . . .

*****

Sewaktu menggali parit, Salman tidak ketinggalan bekerja bersama Kaum Muslimin yang sibuk menggali tanah. Juga Rasulullah saw. ikut membawa tembilang dan membelah batu. Kebetulan di tempat penggalian Salman bersama kawan-kawannya, tembilang mereka terbentur pada sebuah batu besar.

Salman seorang yang berperawakan kokoh dan bertenaga besar. Sekali ayunn dari lengannya yang kuat akan dapat membelah batu dan memecahkannya menjadi pecahan-pecahan kecil. Tetapi menghadapi batu besar ini ia tak berdaya, sedangkan bantuan dari teman-temannya hanya menghasilkan kegagalan belaka.

Salman pergi mendapatkan Rasulullah saw. dan minta izin mengalihkan jalur parit dari garis semula, untuk menghindari batu besar yang tak tergoyahkan itu. Rasulullah pun pergi bersama Salman untuk melihat sendiri keadaan tempat dan batu besar tersebut. Dan setelah menyaksikannya, Rasulullah meminta sebuah tembilang dan menyuruh para sahabat mundur dan menghindarkan diri dari pecahan-pecahan batu itu nantinya . . .

Rasulullah lalu membaca Basmalah dan mengangkat kedua tangannya yang mulia yang sedang memegang erat tembilang itu, dan dengan sekuat tenaga dihujamkannya ke batu besar itu. Kiranya batu itu terbelah dan dari celah belahannya yang besar keluar lambaian api yang tinggi dan menerangi."Saya lihat lambaian api itu menerangi pinggiran kota Madinah",kata Salman, sementara Rasulullah saw. mengucapkan takbir, sabdanya:

"Allah Maha Besar! Aku telah dikaruniai kunci-kunci istana negeri Persi, dan dari lambaian api tadi nampak olehku dengan nyata istana-istana kerajaan Hirah begitu pun kota-kota maharaja Persi dan bahwa umatku akan menguasai semua itu."

Lalu Rasulullah mengangkat tembilang itu kembali dan memukulkannya ke batu untuk kedua kalinya. Maka tampaklah seperti semula tadi. Pecahan batu besar itu menyemburkan lambaian api yang tinggi dan menerangi, sementara Rasulullah bertakbir sabdanya:

"Allah Maha Besar! Aku telah dikaruniai kunci-kunci negri Romawi, dan tampak nyata olehku istana-istana merahnya, dan bahwa umatku akan menguasainya."

Kemudian dipukulkannya untuk ketiga kalinya, dan batu besar itu pun menyerah pecah berderai, sementara sinar yang terpancar dari padanya amat nyala dan terang benerang. Rasulullah pun mengucapkan La ilaha illallah di ikuti dengan gemuruh Kaum Muslimin. Lalu di ceritakanlah oleh Rasulullah bahwa beliau sekarang melihat istana-istana dan mahligai-mahligai di Syria maupun Shan'a, begitu pun di daerah-daerah lain yang suatu ketika nanti akan berada di bawah naungan bendera Allah yang berkibar. Maka dengan keimanan penuh Kaum Muslimin pun serentak berseru:

"Inilah yang dijanjikan Allah . . . . . Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya."

Salman adalah orang yang mengajukan saran untuk membuat parit. Dan dia pulalah penemu pula yang menemukan batu yang telah memancarkan rahasia-rahasia dan ramalan-ramalan ghaib, yakni ketika ia meminta tolong kepada Rasulullah saw. Ia berdiri di samping Rasulullah menyaksikan cahaya dan mendengar berita gembira itu. Dan dia masih hidup ketika ramalan itu terjadi kenyataan nya, dilihat bahkan dialami dan dirasakan nya sendiri. Dilihatnya kota-kota di Persi dan Romawi, dan dilihatnya mahligai istana di Shan'a, di Mesir, di Syria dan di Irak. Pendek nya disaksikan dengan mata kepalanya bahwa seluruh permukaan bumi seakan berguncang keras, karena seruan mempesona penuh berkah yang berkumandang dari puncak menara-menara tinggi di setiap pelosok, memancarkan sinar hidayah dan petunjuk Allah . . . . .

Nah, itulah dia sedang duduk di bawah naungan sebatang pohon yang rindang berdaun rimbun, di muka rumahnya di kota Madain sedang menceritakan kepada sahabat-sahabatnya perjuangan berat yang di alaminya demi mencari kebenaran, dan mengisahkan kepada mereka bagaimana ia meninggalkan agama nenek moyangnya bangsa Persi, masuk kedalam agama Nashrani dan dari sana pindah ke dalam Agama Islam. Betapa ia telah meninggalkan kekayaan berlimpah dari orang tuanya dan menjatuhkan dirinya kelembah kemiskinan demi kebebasan pikiran dan jiwanya . . . . ! Betapa ia dijual di pasar budak dalam mencari kebenaran itu, bagaimana ia berjumpa dengan Rasulullah dan beriman kepadanya . . . . !

Marilah kita dekati majlisnya yang mulia dan kita dengarkan kisah menakjubkan yang diceritakannya!

*****

Popular posts from this blog

Mush'ab bin Umair Duta Islam Yang Pertama | 60 Sahabat Nabi Muhammad saw

Ridha Terhadap Ketentuan Allah | Bersama Motor bodol

Tiga kondisi kebahagiaan seorang hamba

Hiduplah Sebagaimana Adanya | Motor Bodol

Jangan Menyesali Masa Lalu

Asal Usul Sunan Apel | Kisah Wali Songo

Motor bodol untuk jarak jauh