Ridha Terhadap Ketentuan Allah | Bersama Motor bodol

Ridho Terhadap Ketentuan Allah swt. artinya menerima semua kejadian yang menimpa diri kita dengan lapang dada, menghadapinya dengan tabah, ridha, dan tidak merasa kesal atau berputus asa walaupun disaat mencari nafkah kehujanan Bersama Motor Bodol.

Motor Bodol adalah bahasa dari Kampung (Desa) saya yang arti nya motor yang sudah rusak, butut atau motor yang sudah tidak layak pakai. Dikarenakan saya hanya memiliki satu motor saja, walau pun motornya sudah bodol asalkan kita terampil untuk mengkotak-katiknya motor bodol tersebut masih bisa saya gunakan untuk mencari nafkah, bahkan untuk pejalan jarak jauh (yaitu mengantar anak saya mondok di pesantren).

https://www.percetakansukawera.com/2020/06/ridha-terhadap-ketentuan-allah-bersama-motor-bodol.html
Ridha Terhadap Ketentuan Allah | Bersama Motor bodol.html

Di dalam menghadapi sesuatu yang kurang disenangi seseorang mempunyai dua kemungkinan yaitu rela atau sabar. Rela ialah sifat utama yang disunahkan, sedangkan sabar ialah sikap yang wajib.

Orang-orang yang rela kadang-kadang dapat melihat hikmah dan kebaikan yang terdapat dalam cobaan tersebut dan tidak menuduh serta berburuk pandang terhadap Allah atas ketentuan-Nya itu. Bahkan kadang-kadang kita dapat memandang kebesaran dan keagungan serta kesempurnaan Allah yang telah memberikan cobaan kepada kita sehingga kita tidak merasakan sakit dan mengeluh atas cobaan yang diberikan-Nya. Orang yang dapat bersikap seperti demikian itu hanyalah para ahli ma'rifat dan mahabbah kepada-Nya saja. Bahkan mereka dapat merasakan bahwa cobaan yang diberikan-Nya itu sebagai nikmat dan karunia dari-Nya.

Perbedaan antara rela dan sabar adalah tipis, bahkan jika kita tidak benar-benar memahami, maka kita menganggapnya sama.

Rela adalah berlapang dada, tenang dalam menghadapi ketentuan Allah dan menerima ketentuan itu tanpa adanya harapan untuk terbebas dari kesakitan dan penderitaannya itu.

Sedangkan Sabar adalah menahan diri dan berusaha mencagahnya dari perasaan marah dan kesal serta sakit hati di kala merasakan sakitnya terkena bencana atau musibah, sambil mengharap kepada Allah agar bencana atau musibah itu segera hilang dari dirinya.

Baca juga:

Orang yang menerima ketentuan Allah, mereka akan dimasukan kedalam surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai dan mereka kekal di dalamnya, hal ini dijanjikan oleh Allah dalam al-Qur'an.

"Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga Adn yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal didalamnya. Allah ridho terhadap mereka dan mereka 
pun ridho kepada-Nya".[Q.S. Al-Bayyinah:8]

Sedangkan orang yang tidak mau menerima ketentuan yang diberikan Allah, maka orang yang demikian itu disebut orang yang berputus asa dari rahmat-Nya. Sedangkan orang yang berputus asa dari rahmat Allah itu akan diberikan azab yang sangat pedih di neraka, sebagaimana yang difirmankan dalam Al-Qur'an.

"Dan orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah dan pertemuan dengan Dia, mereka berputus asa dari rahmat-Ku, dan mereka itu mendapat azab yang pedih".[Q.S. Al-Ankabut:23]

Sedangkan Imam Tirmidzi, mentakhrijkan hadits dari Anas ra. Rasulullah saw. bersabda:

"Jika Allah mencintai sesuatu kaum, Dia mengujinya (dengan musibah). Barang siapa yang rela, maka mereka mendapat ridho Allah. dan barang siapa yang tidak rela bahkan benci, maka mereka akan dibenci pula oleh Allah".

Ibnu Mas'ud ra. berkata: "Allah swt. dengan keadilan-Nya menjadikan kebahagiaan dan kesenangan-Nya menjadikan kebahagiaan dan kesenangan ada pada keyakinan dan juga kerelaan hati, dan menjadikan duka dan kesusahan pada keraguan dan ketidakrelaan".

Alkisah mengatakan: Pada suatu ketika Imam Ali melihat Adi bin Hatim bersedih, maka beliau menegur: "Mengapa dirimu bermuram durja, kawan? Ia menjawab: "Bagai mana aku tidak sedih, sedangkan dua anak ku terbunuh dan mata ku ini tercungkil?" Maka beliau berkata: "Wahai Adi barang siapa yang rela dengan taqdir, maka Allah akan ridha kepadanya, dan memberinya pahala. Dan barang siapa yang tidak rela, maka ia tidak akan mendapatkan ridha dari Allah dan amalnya akan menjadi sia-sia".

Allah swt. berfirman dalam Al-Qur'an surat At-Taghobun ayat 11.

"Tiada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah, dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah mengetahui segala sesuatu".

Jadi berdasarkan ayat di atas maka kita mengetahui bahwa segala sesuatu yang terjadi pada manusia, baik musibah yang menimpa dari seseorang secara pribadi atau musibah yang menimpa masyarakat, bangsa maupun negara, itu semua berjalan menurut kehendak Allah swt. Maka jika kita beriman kepada taqdirnya, maka Dia akan memberi petunjuk kepada kita, sedangkan Rasulullah saw. bersabda:

"Iman kepada qadha dan qadar dapat menghilangkan keruwetan dan kesusahan".

Dengan demikian alangkah indah dan beruntungnya orang yang beriman kepada qadha dan qadar-Nya, disamping kita mendapatkan petrunjuk seperti yang difirmankan oleh-Nya dalam A-Qur'an dan kita juga mendapatkan jalan keluar dari keruwetan dan kesusahan sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah di atas. Tetapi sebaliknya orang yang tidak bersikap ridha terhadap qadha dan qadar-Nya, maka orang itu amatlah dibenci oleh Allah swt. bahkan sampai diusir disuruh mencari tuhan selain-Nya. Ini menunjukan bahwa orang yang tidak menerima atau tidak relaq dengan qodha dan qodar-Nya itu sama dengan orang kafir, orang yang menyekutukan-Nya, atau sama dengan orang yang menyembah sesembahan selain-Nya.

Dalam Hadits Qudsi Allah swt. berfirman:

"Allah Ta'ala berfirman: Siapa yang tidak rela dengan keputusan-Ku dan ketentuan-Ku, maka hendaknya ia mencari tuhan selain Aku".(H.R. Thabrani).

Baca juga:

Qadha dan Qadar Dilihat Dari Berbagai Segi

1. Segi Keadaan

Qadha dan qadar jika dilihat dari segi keadaannya terbagi menjadi dua, yaitu: qadar azali dan qadar 'am. Qadar azali ialah qadar yang sudah dapat dibaca sebelumnya/karena merupakan kebiasaan yang sudah berulang-ulang terjadi secara tetap. Misalnya: matahari terbit dari arah timur, semua yang bernama makhluk akan mati. Sedangkan qadar 'am adalah qadar yang belum dapat kita ketahui sebelum qadar itu terjadi. Misalnya: kapan kita akan mati dan dimana tempatnya?

2. Segi Usaha dan Ikhtiar Manusia

Qadha dan qadar jika dilihat dari segi ini terbagi menjadi sua bagian, yaitu: mubram dan muallaq, sedangkan pengertian qadar mubram adalah qadar yang sedah pasti, tidak dapat diubah oleh manusia. qadar muallaq adalah qadar yang masih digantungkan, menanti ikhtiar atau usaha manusia.

Orang-orang yang lulus dalam cobaan yang diberikan oleh Allah, maka orang itu akan dipelihara dari syubhat, sedangkan orang-orang yang tidak lulus dalam menjalani cobaan atau ujian-Nya, maka orang tersebut telah menyimpang dari tuntutan agama. Sebagaimana sabda Rasulullah saw. yang diriwayatkan Imam Thabrani, Rasulullah saw. bersabda:

"Sesungguhnya Allah benar-benar akan menguji kamu dengan suatu bencana sebagaimana kamu menguji emasnya di dalam, maka antara mereka ada yang keluar seperti permata, dan itulah orang-orang yang dipelihara oleh Allah dari subhat. Dan diantara mereka ada yang keluar seperti emas hitam, dan itulah orang-orang yang menyimpang dari tuntunan agama".

Bagai mana ketentuan Allah, tentunya hal itu mengandung kebaikan bagi manusia, baik maupun buruk, baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah, sebaliknya buruk menurut kita belum tentu buruk menurut Allah, oleh sebab itu kita serahkan saja semuanya kepada-Nya, karena hanya Allah lah yang mengetahui segala sesuatu.

Umar Ibnul Khottob ra. mengatakan: "Aku tidak perduli seperti apa keadaanku esok hari, apakah dalam keadaan yang ku senangi atau dalam keadaan yang tidak aku senangi, karena aku tidak tau sisi kebaikannya pada sesuatu yang aku senangi atau yang tidak aku senangi.

Baca juga:

Apakah menurut pembaca bermanfaat tentang Ridha Terhadap Ketentuan Allah|Bersama Motor Bodol ? . . . . .Jika menurut pembaca tidak bermanfaat, saya mohon maaf  telah menyita waktunya.Allah Maha Pemberi Maaf dan Maha Tau apa yang kita lakukan.

Wallahu a,lam bish-shawab.
Billahit-taufiq wal-hidayah.

Comments

Unknown said…
Wah motor bodol
Unknown said…
Bersama motor bodol.
Sawa cw asik tuh
Unknown said…
Sukset y motor bodol
Unknown said…
Semoga saja jadi orang yang sabar y
Unknown said…
Maju terus walau pun hujan deras
@@@ said…
Kayaknya kedinginan kena hujan
@@@ said…
Istirahat dulu mas biar gk kehujanan
@@@ said…
Kehujanan bawa apa tuh

Popular posts from this blog

Mush'ab bin Umair Duta Islam Yang Pertama | 60 Sahabat Nabi Muhammad saw

Tiga kondisi kebahagiaan seorang hamba

Hiduplah Sebagaimana Adanya | Motor Bodol

Jangan Menyesali Masa Lalu

Asal Usul Sunan Apel | Kisah Wali Songo

Motor bodol untuk jarak jauh