Kisah Syekh Maulana Malik Ibrahim | Kakek Bantal

Kisah Wali Song

Salah satunya iyalah kisah Syekh Maulana Malik Ibrahim | Kakek Bantal

Syekh Maulana Malik Ibrahim adalah yang lebih di kenal penduduk setempat sebagai kakek Bantal. Diperkirakan datang ke Gresik pada tahun 1404 M. Beliau berdakwah di Gresik hingga akhir hayatnya yaitu pada tahun 1419 M.

https://www.percetakansukawera.com/2020/06/kisah-syekh-maulana-malik-ibrahim-kakek-bantal.html
Kisah Syekh Maulana Malik Ibrahim | Kakek Bantal.html


Jauh sebelum Syekh Maulana Malik Ibrahim datang ke Pulau Jawa, sebenarnya sudah banyak masyarakat Islam di daerah-daerah pantai utara, termasuk di desa Leran. Hal itu dapat di buktikan dengan adanya makam seorang wanita benama Fatimah binti Maimun yang meninggal pada tahun 475 Hijriah atau pada tahun 1082 Masehi. Jadi sebelum jaman Wali Songo, Islam sudah ada di pulau jawa yaitu di daerah Jepara dan Leran. Tetapi Islam pada masa itu belum berkembang secara besar-besaran.

Dalam berdakwah kakek Bantal (Syekh Maulana Malik Ibrahim) menggunakan cara yang bijaksana dan strategi yang tepat berdasarkan ajaran Al-Qur'an, yaitu:

"Hendaklah engkau ajarkan Tuhan mu dengan hikmah (kebijaksanaan) dan dengan petunjuk yang baik serta ajaklah mereka berdialog (bertukar pikiran) dengan cara yang sebaik-baiknya."[QS. An-Nahl : 125]

Ada yang menyebutkan bahwa beliau berasal dari Turki, dan pernah mengembara di Gujarat, sehingga beliau cukup berpengalaman menghadapi orang-orang Hindu di pulau jawa. Gujarat adalah wilayah negri India yang kebanyakan penduduknya beragama Hindu.

Di Jawa kake Bantal bukan hanya berhadapan dengan masyarakat Hindu saja, melainkan juga harus bersabar terhadap mereka yang tidak beragama maupun mereka yang terlanjur mengikuti aliran sesat, juga meluruskan iman dari orang-orang Islam yang bercampur dengan kegiatan Musyrik. Caranya beliau tidak langsung memandang kegiatan mereka yang salah itu, melainkan mendekatkan diri kepada mereka dengan penuh hikmah, beliau tunjukan keindahan dan ketinggian akhlak Islami sebagai mana ajaran Nabi Muhammad saw.

Sari hurup-hurup yang ada di batu nisannya dapat di ketahui bahwa Syekh Maulana Malik Ibrahim adalah si Kakek Bantal, penolong orang miskin, yang di hormati para pangeran dan para sultan yang ahli tata negara yang ulung, hal itu menunjukan betapa hebat perjuangan beliau terhadap masyarakat, bukan hanya kalangan atas, melainkan juga pada golongan rakyat bawah yaitu kaum fakir miskin.

Adapun keterangan yang tertulis di makam beliau adalah sebagai berikut:"Inilah makam almarhum Almaghfur, yang berharap rahmat Tuhan, kebanggaan para pangeran, sendi para sultan dan para mentri, penolong para fakir miskin, yang berbahagia lagi syahid, cemerlangnya simbol negara dan agama, Malik Ibrahim yang terkenal dengan sebutan Kakek Bantal. Allah meliputinya dengan rahmat-Nya dan ke ridhoan-Nya, dan dimasukkan ke dalam surga. Telah wafat pada senin, 12 Rabiul Awal tahun 822 Hijriah."

Menurut literatur yang ada, beliau juga ahli pertanian dan pengobatan. Semenjak beliau berada di Gresik, hasil pertanian rakyat Gresik meningtkat tajam. Dan orang-orang yang sakit banyak yang disembuhkannya dengan daun-daun tertentu.

Sifatnya lemah lembut, welas asih dan ramah tamah kepada semua orang, baik sesama muslim atau dengan non muslim membuatnya terkenal sebagai tokoh masyarakat yang di segani dan di hormati. Kepribadiannya yang baik itulah yang menarik hati penduduk setempat hingga mereka berbondong-bondong masuk agama Islam dengan suka rela dan menjadi pengikut beliau yang setia.

Sebagai misal, bila beliau menghadapi rakyat jelata yang pengetahuannya masih awam sekali, beliau menerangkan Islam tidak secara rumit. Kaum bawah tersebut di bimbing untuk bisa mongolah tanah agar sawah dan ladang mereka dapat dipanen lebih banyak lagi, sesudah itu mereka di anjurkan bersyukur kepada Yang Memberikan Rezeki, yaitu Allah swt.

Dikalangan rakyat jelata Syekh Maulana Malik Ibrahim sangat terkenal, terutama dari kalangan kasta rendah. Sebagaimana diketahui, agama Hindu membagi masyarakat menjadi empat kasta, yaitu: "Kasta Brahmana, Ksatria, Waisya, dan Sudra. Dari keempat kasta tersebut, kasta Sudra adalah kasta palih rendah dan sering di tindas oleh kasta-kasta yang lebih tinggi. Maka ketika Syekh Maulana Malik Ibrahim menerangkan kedudukan seseorang di dalam Islam, orang-orang kasta Sudra dan kasta Waisya banyak yang tertarik. Syekh Maulana Malik Ibrahim menjelaskan bahwa dalam agama Islam semuah manusia sama sederajat. Orang Sudra boleh saja bergaul dengan kalangan yang lebih atas, tidak di beda-bedakan. Dihadapan Allah semua manusia adalah sama, yang paling mulia di antara mereka hanyalah yang paling taqwa kepada-Nya.

Taqwa itu terletak di hati, hati yang mengendalikan semua kehidupan manusia untuk berusaha sekuat-kuatnya mengerjakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Dengan taqwa itulah manusia bisa hidup bahagia di dunia hingga di akherat kelak, orang yang bertaqwa sekali pun dia dari kasta Sudra, bisa jadi lebih mulia dari pada mereka yang berkasta Ksatria dan Brahmana.

Mendengar keterangan ini, mereka yang berkasta Sudra dan Waisya merasa lega, mereka merasa di bela dikembalikan haknya sebagai manusia utuh sehingga wajarlah mereka masuk agama Islam berbondong-bondong dengan suka cita.

Setelah pengikutnya bertambah banyak, beliau kemudian mendirikan masjid untuk beribadah dan mengaji bersama-sama. Dalam mendirikan masjid beliau mendapatkan bantuan yang tidak sedikit dari raja Cermain. Dan untuk mempersiapkan umat yang nantinya dapat meneruskan perjuangan menyebarkan agama Islam ke seluruh tanah Jawa dan seluruh Nusantara, maka beliau kembali mendirikan pesantren yang merupakan perguruan Islam, tempat mendidik dan menggembleng para santri sebagai calon mubaligh.

Pendirian pesantren yang pertama kali di Nusantara itu di ilhami oleh kebiasaan masyarakat umat Hindu yaitu para Biksu dan Pendeta Brahamana yang mendidik santri dan calon pemimpin agama di mandala-mandala mereka. Inilah strategi para wali yang sangat jitu. Orang Budha dan Hindu yang mendirikan mandala-mandala untuk mendidik, melainkan beliau itu mendirikan pesantren yang mirip mandala-mandala milik kelompok Hindu dan Budha tersebut untuk menjaring umat. Dan ternyata hasilnya sungguh memuaskan, dari pesantren Gresik, kemudian muncul para mubaligh yang menyebar ke seluruh Nusantara.

Tradisi pesantren tersebut berlangsung hingga di jaman sekarang. Dimama para ulama menggodok calon mubaligh di pesantren yang di asuhnya.

Bila orang bertanya kepada sesuatu masalah agama kepada beliau, maka beliau tidak akan menjawab secara berbelit-belit melainkan di jawa dengan mudah  dan gamblang sesuai dengan pesan Nabi yang menganjurkan agama disiarkan dengan mudah, tidak dipersulit, umat harus dibuat gembira, tidak ditakut-takuti. Seperti tersebut dalam buku History Of Java karangan Sir Stamford Raffles. Pada suatu hari Syekh Maulana Malik Ibrahim ditanya:"Apakah yang dimaksud Allah itu?"

Beliau tidak menjawab bahwa Allah itu Tuhan yang memberi pahala surga hamba-Nya yang berbakti, dan menyika sepedih-pedihnya bagi hamba yang membangkang kepada-Nya. Jawaban beliau sangat singkat dan jelas, yaitu: "Allah adalah Dzat yang diperlikan ada-Nya."

Selama dua tahun Syekh Maulana Malik Ibrahim berdakwa di Gresik, beliau tidak hanya membingbing umat untuk mengenal dan mendalami agama Islam, juga memberikan pengarahan agar tingkat kehidupan rakyat Gresik menjadi lebih baik. Beliau juga yang mempunyai gagasan mengalirkan air dari gunung untuk mengairi lahan pertanian penduduk. Dengan adanya sistem pengairan yang baik ini, lahan pertanian menjadi subur dan hasil panen bertambah banyak, para petani menjadi makmur dan mereka dapat mengerjakan ibadah dengan tenang.

Andai Syekh Maulana Malik Ibrahim tidak ikut membenahi dan meningkatkan taraf hidup rakyat Gresik, tentulah mereka akan sukar di ajak beribadah dengan baik dan tenang. Sebagaimana sabda Nabi bahwa kefakiran menjurus pada kekafiran. Bagaimana mungkin bisa beribadah dengan tenang, jika hari-hari disibukan dengan urusan sesuap nasi. Inilah resep yang harus di tiru.

TAMU DARI NEGERI CERMAIN

Ada ganjaran di hati Syekh Maulana Malik Ibrahim, dia telah berhasil mengislamkan sebagian besar rakyat Gresik. Gresik adalah bagian dari wilayah Majapahit. Kalau seluruh rakyat telah memeluk Islam, sedangkan raja Brawijaya penguasa Majapahit masih beragama Hindu, apakah di kemudian hari tidak timbul ketegangan antara rakyat dengan rajanya?

Untuk menghindari hal itu, maka Syekh Maulana Malik Ibrahim mempunyai rencana mengajak raja Brawijaya untuk masuk agama Islam. Hal itu diutarakan nya kepada sahabatnya yaitu raja Cermain ingin mengajak Prabu Brawijaya masuk agama Islam.

Raja Cermain datang ke Gresik disertai putrinya yang cantik rupawan. Putri raja Cermain itu bernama Dewi Sari, tujuannya dalam misi tersebut ialah untuk memberikan bimbingan kepada para putri Istana Majapahit mengenai agama Islam.

Bersama Syekh Maulana Malik Ibrahim, rombongan dari negeri Cermain itu menghadap Prabu Brawijaya. Usaha mereka ternyata gagal. Prabu Brawijaya bersikeras mempertahankan agama lama dengan ucapan yang Diplomatis. Bahwa dia bersedia masuk Islam bila dewi sari bersedia dipersuntingnya sebagai istri. Dewi Sari menolak, tidak ada gunanya masuk Islam bila di tunggangi dengan kepentingan duniawi, beragama seperti itu hanya akan merusak keagungan agama Islam.

Rombongan dari negeri Cermain lalu kembali ke Gresik. Mereka beristirahat di Leran sambil menunggu selesainya perbaikan kapal untuk berlayar pulang. Sungguh sayang sekali, sel;ama beristirahat di Leran itu banyak anggota rombongan dari negeri Cermain yang diserang wabah penyakit. Banyak di antara mereka yang meninggal termasuk Dewi Sari.

Kabar kematian Dewi Sari terdengar ke telinga Prabu Brawijaya. Raja yang memang tertarik dan merasa jatuh cinta kepada Dewi Sari, kemudian Brawijaya sang raja Majapahit menyempatkan diri beserta pegawai istana ke desa Leran. Sang raja Majapahit itu memerintahkan kepada para pegawai kerajaan untuk menggali kubur dan memakamkan Dewi Sari dengan ucapan kebesaran. Di desa Leran itulah Dewi Sari dikuburkan.

Setel;ah rombongan dari neggeri Cermain meninggalkan pantai Leran, prabu Brawijaya menyerahkan seluruh daerah Gresik kepada Syekh Maulana Ibrahim untuk di perintah sendiri di bawah kedaulatan Majapahit.

Penyerahan daerah itu oleh sang raja agar rakyat Gresik yang beragama Islam itu tidak memberontak kepada rajanya yang masih beragama Hindu. Sangatlah raja Majapahit itu diterima Syekh Maulana Malik Ibrahim dengan sukarela. Sesuai dengan ajaran Islam yang menganjurkan perdamaian dengan orang-orang yang bukan muslim yang mau hidup berdampingan dengan aman dalam suatu negara.

Demikianlah sekilas tentang kisah Syekh Maulana Malik Ibrahim, seorang wali yang dianggap ayah Wali Songo. Beliau wafat di Gresik pada tahun 882 Hijriah atau 1419 Masehi

.Baca Juga:

  1. Ridha Terhadap Ketentuan Allah | Bersama Motor bodol
  2. Tuban Abu Mualak | Bocah Berbakti Kepada Orang Tua
  3. Asal Usul Sunan Apel | Kisah Wali Songo
  4. Hiduplah Sebagaimana Adanya | Motor Bodol
  5. Kakek Bantal
  6. Kisah Wali Songo | Penyebar Agama Islam di Tanah Jawa
  7. Tiga kondisi kebahagiaan seorang hamba
  8. Motor bodol untuk jarak jauh
  9. Sabar dalam menghadapi cobaan
  10. Pintu-pintu setan
  11. Obat sakit hati bisa dilakukan sendiri
  12. Hari Ini Milik Kita
  13. Kalimat motivasi untuk hidup lebih baik
  14. Jangan Risau dan Jangan Bersedih
  15. Tentukan Tujuan Hidup
  16. orang yang bahagi | happy person
  17. Ciri-ciri orang yang sengsara
  18. Meningkatkan kualitas diri
  19. Keutamaan Menuntut Ilmu
  20. Asal-Usul Syekh Siti Jenar
  21. Jangan Menyesali Masa Lalu
  22. Rahasia Bahagia | Kunci Bahagia
  23. Berpikir Dan Bersyukur
  24. Mush'ab bin Umair Duta Islam yang Pertama
  25. Salman Al Farisi Pencari Kebenaran
  26. Cara mempermudah bangun malam
  27. Cara Mengenali Nafsu
  28. Memerangi Nafsu Dengan Lapar
  29. Keutamaan Akhlak
  30. Rahasia Takdir
  31. Renungan Suci #1
  32. Renungan Suci #2
  33. Renungan Suci #3
  34. Ingin Kaya | Seriuslah Bekerja
  35. Biarkan Hari Esok Datang
  36. Tersenyumlah Dan Jangan Bersedih
Dengan rasa keterbatasan saya hanya ini info yang saya dapat tentang Kisah Syekh Maulana Malik Ibrahim | Kakek Bantal. Kiranya teman-teman ada yang bersedia untuk melengkapinya, dipersilakan.
Semoga bermanfaat.

Comments

Ani Productions said…
Syekh Maulana Malik Ibrahim adalah yang lebih di kenal penduduk setempat sebagai kakek Bantal
Ani Productions said…
Syekh Maulana Malik Ibrahim adalah yang lebih di kenal penduduk setempat sebagai kakek Bantal

Popular posts from this blog

Mush'ab bin Umair Duta Islam Yang Pertama | 60 Sahabat Nabi Muhammad saw

Ridha Terhadap Ketentuan Allah | Bersama Motor bodol

Tiga kondisi kebahagiaan seorang hamba

Hiduplah Sebagaimana Adanya | Motor Bodol

Jangan Menyesali Masa Lalu

Asal Usul Sunan Apel | Kisah Wali Songo

Motor bodol untuk jarak jauh