Asal Usul Sunan Apel | Kisah Wali Songo

Asal Usul Sunan Apel | Kisah Wali Songo
Siapa itu Sunan Ampel ?
Kiranya bermanfaat silakan di baca dan kiranya tidak bermanfaat tinggalkan saja.

https://www.percetakansukawera.com/2020/06/asal-usul-sunan-apel-kisah-wali-songo.html
Asal Usul Sunan Apel | Kisah Wali Songo.html
Bukhara adalah nama sebuah kota yang terletak di daerah Samarqan. Sejak dahulu daerah daerah Samarqan terkenal sebagai daerah Islam yang melahirkan ulama-ulama besar seperti sarjana hadist sahih.

Di samarqan ini ada seorang ulama besar bernama Syekh Jamaludin Jumadil Kubra, ia seorang Ahlussunah bermahzab Imam Syafe'i. Beliau mempunyai seorang putra bernama Ibrahim. Karena berasal dari Samarqan, bagi orang Jawa sangat sukar untuk mengucapkan Samarqan akhirnya menyebutnya sebagai Syekh Ibrahim Amarakandi.

Syekh Ibramih Asmarakandi ini diprintah oleh ayahnya, yaitu Syekh Jamaludin Jumadil Kubra untuk berdakwah kenegara-negara Asia. Perintah ini dilaksanakan, dan beliau kemudian menjadi menantu oleh raja Cempa, di jodohkan dengan puti raja Cempa yang bernama Dewi Candrawulan. Menurut ahli sejarah, negri Cempa berada di Muangthai.

Dari hasil pernikahannya dengan Dewi Candrawulan, Ibrahim Asmarakandi mendapatkan dua putra yaitu Sayyid Ali Rahmatullah dan Sayyid Ali Murthado. Sedangkan adik Dewi Cantrawulan yang bernama Dewi Dwarawati di peristri oleh Prabu Brawijaya(raja Majapahit). Dengan demikian , kedua putra Ibrahim Asmarakandi merukan keponakan raja Majapahit dan tegolong putra bangsawan atau pangeran kerajaan. Para pangeran atau bangsawan kerajaan pada waktu itu mendapat gelar Rahadian yang artinya yaitu Tuan ku, dalam proses selanjutnya sebutan ini cukup dipersingkat menjadi Raden.
Raja Majapahit sangat senang mendapat istri dari negri Cempa yang wajah dan kepribadiannya sangat memikat hati. Sehingga istri-istri yang lainnya di ceraikan. Banyak yang diberikan kepada adipatinya yang tersebar di seluruh Nusantara. Salah satu contoh adalah istri yang bernama Dewi Kian, seorang putri cina, yang diberikan kepada adipati Ario Damar di Palembang.

Ketika Dewi Kian di ceraikan dan diberikan kepada afipati Ario Damar, saat itu ia sedang hamil tiga bulan. Ario Damar tidak diperkenankan menggauli putri cina itu sampai jabang bayi itu lahir ke dunia. Bayi dari rahim Dewi Kian itulah yang nantinya bernama Raden Hasan atau lebih dikenal dengan nama Raden Patah, salah seorang murid Sunan Ampel kemudian menjadi raja di Demak Bintoro.

Kerajaan Majapahit sedudah ditunggal Mahapatih Gajah Mada dan Prabu Hayam Wuruk mengalami kemunduran draktis. Kerajaan terpecah belah karena terjadinya perang saudara, dan para adipati banyak yang tidak loyal lagi kepada keturunan Prabu Hayam Wuruk yaitu Prabu Brawijaya Kertabumi.

Pajak dan upeti banyak yang tidak sampai ke istana Majapahit. Lebih sering di nikmati oleh para adipati itu sendiri. Hal ini membuat sang Prabu bersedih hati. Lebih-lebih lagi dengan adanya kebiasaan buruk kaum bangsawan dan para pangeran yang suka berpesta pora dan main judi serta mabuk-mabukan. Prabu Brawijaya sadar betul bila kebiasaan seperti itu di teruskan negara akan menjadi lemah dan jika negara sudah kehilangan kekuatan, betapa mudahnya bagi musuh untuk menghancurkan Majapahit Raya.
Ratu Dwarawati, yaitu istri Prabu Brawijaya mengetahui kerisauan hati suaminya. Dengan memberanikan diri dia mengajukan pendapat kepada suaminya. "Saya mempunyai seorang keponakan yang ahli mendidik masalah kemerosotan budi pekerti," turut ratu Dwarawati. "Betulkah?" tanya sang Prabu. " Ya, namanya Ali Rahmatullah, putra dari kanda Dewi Candrawulan di Negri Cempa. Bila kanda berkenan, saya akan meminta Ramanda Prabu di Cempa untuk mendatangkan Ali Rahmantullah ke Majapahit ini."Tentu saja aku akanmerasa senang bila Rama Prabu di Cempa bersedia mengirim Sayyid Ali Rahmatullah ke Majapahit ini." Kata raja Brawijaya.

Maka pada suatu hari berangkatlah utusan dari Majapahit ke negri Cempa untuk meminta Sayyid Ali Rahmatullah datang ke Majapahit. Kedatangan utusan Majapahit disambut gembira oleh raja Cempa, dan raja Cempa tidak keberatan untuk melepas cucunya ke Majapahit untuk meluaskan pengalamannya.

KETANAH JAWA
Keberangkatan Sayyid Ali Rahmatullah ke tanah jawa tidak sendirian. Ia ditemani oleh ayah dan kakeknya. Sebagai mana di disebutkan diatas, ayah Sayyi Ali Rahmatullah adalah Syekh Maulana Ibrahim Asmarakandi dan kakeknya bernama Syekh Ali Murtadho. Di duga mereka tidak langsung ke Majapahit, melainkan mendarat di tuban, tepatnya di desa Gresikharjo, kemudian Syekh Maulana Ibrahim Asmarakandi jatuh sakit dan meninggal dunia. Beliau di makamkan di desa tersebut yang masih termasuk kecamatan Malang kabupaten Tuban.
Sayyid Murthado kemudian meneruskan perjalan, beliau berdakwah keliling ke daerah Madura, Nusa Tenggara dan Bima. Disana beliau mendapat sebutan raja pandita bima. Dan akhirnya berdakwa di gresik mendapat sebutan raden santri. Beliau wafat dan di makamkan di gresik. Kemudian Sayyid Ali Rahmatullah meneruskan perjalanan ke majapahit menghada Prabu Brawijaya sesuai permintaan ratu Dwarawati.

Kapal layar yang di tempanginya mendarat di pelabuhan Canggu. Kedatangannya di sambut dengan suka cita oleh Prabu Brawijaya. Lebih-lebih lagi Dewi Dwarawati bibinya sendiri, Dewi Dwarawati memeluknya erat-erat, seolah sedang memeluk kakak perempuannya yang berada di istana Cempa. Wajah keponakannya itu memang mirip dengan kakak perempuannya.

Nanda Rahmatullah bersediakah engkau memberikan pelajaran dan memdidik kaum bangsawan dan rakyat Majapahit agar mempunyai budipekerti yang mulia?" tanya Prabu Brawijaya setelah Sayyid Ali Rahmatullah beristirahat melepas lelah.

Dengan sikapnya yang sopan dan tutur katanya yang halus, Sayyid Ali Rahmatullah menjawab,"dengan senang hati gusti Prabu, saya akan berusaha sekuat-kuatnya untuk mencurahkan kemampuan saya mendidik mereka ". Bagus ! Sahut Prabu Brawijaya," bila demikian kau akan aku beri sebidang tanah berikut bangunannya di surabaya. Disanalah kau akan mendidik para bangsawan dan pangeran Majapahit agar berbudi pekerti mulia".

"Terima saya haturkan, gusti Prabu", jawab Sayyid Ali Rahmatullah. Disebutkan dalam literatur bahwa selanjutnya Sayyid Ali Rahmatullah menetap beberapa hari di istana Majapahit dan dijodohkan dengan salah seorang putri Majapahit yang bernama Dewi Condrowati atau Nyai Ageng Manila. Dengan demikian Sayyid Ali Rahmatullah adalah seorang pangeran Majapahit, karena dia adalah menantu raja Majapahit.

Semenjak Sayyid Ali Rahmatullah di jadikan menantu oleh raja Brawijaya, maka beliau adalah anggota kerajaan Majapahit atau salah seorang pangeran. Para pangeran pada jaman dahulu ditandai dengan nama depan rahadian atau raden yang berarti tuan ku. Kemudian beliau dikenal dengan sebutan Raden Rahmat.

AMPELDENTA
Pada hari yang telah di tentukan, berangkatlah rombongan Raden Rahmatullah kesebuah daerah di Surabaya dan kemudian di sebut sebagai Ampeldenta. Rombongan itu melalui desa Krian, wonokromo terus memasuki kembang kuning. Selama dalam perjalanan, beliau juga berdakwah kepada penduduk setempat yang dilaluinya. Dakwah yang pertama kali dilakukannya cukup unik. Beliau membuat kerajinan berbentuk kipas yang terbuat dari akar tumbuh-tumbuhan tertentu dan membuat anyaman-anyaman dari rotan. Kipas-kipas itu dibagikan kepada penduduk setempat secara gratis. Para penduduk hanya cukup menukarnya dengan kalimat Syahadat.
Penduduk yang menerima kipas itu merasa sangat senang. Terlebih mengetahui kipas itu bukan sembarang kipas. Akar yang dibuat kipas dan anyaman dari rotan itu ternyata berdaya penyembuh bagi mereka yang terkena penyakit demam dan batuk. Dengan cara itu, orang semakin banyak yang berdatangan kepada Raden Rahmatullah. Pada saat demikianlah Raden Rahmatullah memperkenalkan keindahan agama Islam sesuai tingkat pemahaman mereka.

Cara itu terus dilakukan hingga rombongan memasuki desa kembang kuning. Pada saat itu wilayah desa kembang kuning belum seluas sekarang ini. Disana sini masih banyak hutan dan di genangi air atau rawa-rawa. Dengan karomahnya, Raden Rahmatullah bersama rombongan membuka hutan dan mendirikan tempat untuk beribadah yang sederhana atau langgar(mosholah). Tempat beribadah tersebut sekarang telah merubah menjadi masjid yang cukup besar dan cukup bagus, dinamakan sesuai dengan nama Raden Rahmatullah yaitu Masjid Rahmat Kembang kuning.

Di tempat itu juga raden Rahmatullah bertemu dengan dua orang tokoh masyarakat yaitu: Ki wiryo dan Ki bang kuning. Kedua tokoh keluarga itu bersama keluarganya masuk Islam dan menjadi pengikut Raden Rahmatullah.

Dengan adanya kedua tokoh masyarakat itu, maka semakin mudah bagi Raden Rahmatullah untuk mengadakan pendekatan terhadap rakyat di sekitarnya. Terutama terhadap masyarakat yang masih berpegang teguh terhadap adat kepercayaan lama. Raden Rahmatullah tidak langsung melarang mereka, melainkan memberikan pengertian sedikit demi sedikit tentang pentingnya ajaran ketauhidan. Jika mereka sudah mengenal tauhid atau keimanan kepada Tuhan Pencipta Alam, maka secara otomatis mereka akan meninggalkan sendiri kepercayaan lama yang bertentangan dengan ajaran agama Islam.

Baca juga: Asal-Usul Syekh Siti Jenar

Setelah rombongan Raden Rahmatullah sampai di tempat tujuan, pertama kali yang dilakukan adalah membangun masjid sebagai pusat kegiatan ibadah, ini meneladani apa yang telah dilakukan oleh Nabi Muhammad saw. Saat pertama kali sampai di Madinah.

Dan karena Raden Rahmatullah menetap di desa Ampeldenta, menjadi penguasa daerah tersebut, maka kemudian beliau di kenal sebagai Sunan Ampel. Sunan berasal dari kata susuhunan, artinya yang di junjung tinggi atau panutan masyarakat setempat. Ada juga yang mengartikan sunan itu berasal dari kata Suhu dan Nan yang artinya Guru Besar atau orang yang berilmu tinggi.

Selanjutnya beliau mendirikan pesantren tempat mendidik bangsawan dan pangeran Majapahit serta siapa saja yang mau datang berguru kepada beliau.

AJARAN YANG TERKENAL
Hasil didikan beliau yang terkenal adalah falsafah"Mih Limo" atau tidak mau melakukan lima hal yang tercela, yaitu:
  1. Moh Main atau tidak mau berjudi
  2. Moh Madon atau tidak mau berzinah/main perempuan yang bukan istrinya.
  3. Moh Ngombe atau tidak mau minum arak atau bermabuk-mabukan.
  4. Moh Maling atau tidak mau mencuri
  5. Moh Madat atau tidak mau menghisap ganja dan sejenisnya.
Prabu Brawijaya sangat senang atas hasil didikan Raden Rahmat. Raja menganggap agama Islam adalah ajaran budi pekerti yang mulia, maka ketika Raden Rahmat kemudian mengumumkan ajarannya adalah agama Islam, Prabu Brawijaya tidak menjadi marah, hanya saja ketika di ajak untuk memeluk agama Islam ia tidak mau. ia menjadi raja Budha yang terakhir di Majapahit.

Raden Rahmat diperbolehkan menyiarkan agama Islam di wilayah Surabaya, bahkan seluruh wilayah Majapahit dengan catatan, bahwa rakyat tidak boleh di paksa. Raden Rahmat pun memberi penjelasan, bahwa tidak ada paksaan dalam beragama.

SESEPUH WALI SONGO
Setelah Syehk Maulana Malik Ibrahim wafat, maka Sunan Ampel di angkat sebagai sesepuh Wali Songo, sebagai pimpinan agama Islam se Tanah Jawa. Beberapa murid dan putra Sunan Ampel sendiri juga menjadi anggota Wali Songo. Mereka adalah: Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Kalijaga, Sunan Muria, Sunan Kota atau Raden Patah, Sunan Kudus, dan Sunan Gunung Jati.

Baca juga: Kisah Wali Songo
  1. Syekh Maulana Malik Ibrahim
  2. Sunan Ampel
  3. Sunan Bonang
  4. Sunan Giri
  5. Sunan Drajat
  6. Sunan Muria
  7. Sunan Kudus
  8. Sunan Kali Jaga
  9. Sunan Gunung Jati
Raden Patah atau Sunan Kota memang pernah menjadi anggota Wali Songo menggantikan kedudukan salah seorang wali yang meninggal dunia. Dengan diangkatnya Sunan Ampel sebagai sesepuh, maka para wali lain tunduk patuh kepada kata-katanya, termasuk fatwa beliau dalam memutuskan peperangan dengan pihak Majapahit.

Para wali yang lebih muda menginginkan agar tahta Majapahit di rebut dalam tempo yang se singkat-singkatnya, tetapi Sunan Ampel berpendapat bahwa masalah tahta Majapahit tidak perlu di serang secara langsung, karena kerajaan besar itu sesungguhnya sudah keropos dari dalam, tak usah di serang oleh Demak Bintoro pun sebenarnya Majapahit akan segera runtuh. Para wali yang lebih muda menganggap Sunan Ampel terlalu lamban dalam memberikan nasehat kepada Raden Patah.

"Mengapa Ramanda berpendapat demikian?"tanya Raden Patah yang tak lain adalah menantunya sendiri.
"Karena aku tidak ingin di kemudian hari orang menuduh Raja Demak Bintoro yang masih putra Raja Majapahit Prabu Kertabumi telah berlaku durhaka, yaitu berani menyerang ayahanda nya sendiri,"jawab Sunan Ampel.
"Lalu apa yang harus saya lakukan?
"Kau harus sabar sambil menyusun kekuatan,"ujar Sunan Ampel.."Taklama lagi Majapahit akan runtuh dari dalam. Diserang adipati lain. Pada saat itulah kau berhak merebut hak warismu selaku putra Prabu Kertabumi."
"Majapahit di serang adipati lain? Apakah saya tidak berkewajiban membelanya?"
"Inilah ketentuan Tuhan,"sahut Sunan Ampel."Waktu kejadiannya masih dirahasiakan. Aku sendiri tidak tau persis kapankah peristiwa itu akan berlangsung. Yang jelas bukan kau adipati yang menyerang Majapahit."

Baca juga: Rahasia Bahagia | Kunci Bahagia

Sunan Ampel adalah penasehat politik Demak Bintoro. Sekaligus merangkap pemimpin Wali Songo se Tanah Jawa. Maka wafat nya dipatuhi semua orang.

Kekuatiran Sunan Ampel memang terbukti. Di kemudian hari ternyata ada orang-orang pembenci Islam memutar balikan fakta sejarah, mereka menulis bahwa Majapahit jatuh diserang oleh kerajaan Demak Bintoro yang rajanya adalah putra Raja Majapahit sendiri. Dengan demikian Raden Patah dianggap anak durhaka.(ini dapat kita lihat dalam serat Darmo Gandul maupun sejarah yang ditulis oleh sarjana yang membenci Islam).

Raden Patah dan para wali lainnya akhirnya tunduk patuh pada fatwa Sunan Ampel. Tibalah saatnya Sunan Ampel wafat pada tahun 1478 M. Sunan Kalijaga di angkat sebagai penasehat bagian politik Demak. Sunan Giri di angkat sebagai pengganti Sunan Ampel sebagai pemimpin para wali, sikapnya terhadap Majapahit berubah. Ia menyetujui usul dari Aliran Tuban untuk memberi fatwa kepada Raden Patah agar menyerang Majapahit.

Mengapa Sunan Giri bersikap demikian?
Karena pada tahun 1478 kerajaan Majapahit diserang oleh Prabu Rana Wijaya atau Girindrawardhana dari kadipaten Kediri atau Keling. Dengan demikian, sudah tepatlah jika Sunan Giri menyetujui penyerangan Demak atas Majapahit. Sebab pewaris tahta kerajaan Majapahit adalah Raden Patah selaku putra Raja Majapahit yang terakhir.

Demak kemudian bersiap-siap menyusun kekuatan. Namun belum lagi serangan dilancarkan , Prabu Rana Wijaya keburu tewas diserang oleh Prabu Udara pada tahun 1498.

Pada tahun 1512, Prabu Udara selaku Raja Majapahit merasa terancam kedudukannya karena melihat kedudukan Demak yang di dukung Giri Kedaton semakin kuat dan mapan. Prabu Udara kuatir jika terjadi peperangan akan menderita kekalahan, maka dia minta bekerjasama dan minta bantuan Portugis di Malaka. Padahal putra mahkota Demak yaitu Pati Unus pada tahun 1511 telah menyerang Portugis di Malaka.

Baca juga: Hiduplah Sebagaimana Adanya | Motor Bodol

Sejarah telah mencatat bahwa Prabu Udara telah mengirim utusan ke Malaka untuk menemui Alfonso d'Albuquerque untuk menyerahkan hadiah berupa 20 genta(gamelan), sepotong kain panjang bernama"Beirami"tenunan kambayat, 13 batang lembing yang ujungnya berbesi dan sebagainya. Maka tidak salah jika pada tahun 1517 Demak menyerang Prabu Udara yang merampas harta Majapahit secara tidak sah. Dengan demikian jatuhkan Majapahit ke tangan Demak.

Seandainya Demak tidak segera menyerang Majapahit tentu bangsa Portugis akan menjajah Tanah Jawa jauh lebih cepat dari pada bangsa Belanda. Setelah Majapahit jatuh, pusaka kerajaan di boyong ke Demak Bintoro, termasuk mahkota rajanya. Raden Patah kemudian diangkat sebagai raja Demak yang pertama.

Sunan Ampel juga membantu mendirikan Masjid Agung Demak yang didirikan pada tahun 1477 M. Salah satu dari empat tiang utama masjid Semak hingga sekarang masih diberi nama sesuai dengan yang membuatnya, yaitu Sunan Ampel.

Beliau juga yang pertama kali menciptakan huruf Pagon atau tulisan Arab berbunyi Bahasa Jawa. Dengan huruf Pagon ini, beliau dapat menyampaikan ajaran-ajaran Islam kepada para muridnya. Hingga sekarang huruf Pagon tetap dipakai sebagai bahan pelajaran agama Islam di kalangan pesantren.

PENYELAMAT AQIDAH
Sikap Sunan Ampel terhadap adat istiadat lama sangat hati-hati, hal ini didukung oleh Sunan Giri dan Sunan Drajat. Seperti yang pernah di sebutkan dalam permusyawaratan para wali di masjid Agung Demak. Pada waktu itu Sunan Kalijaga mengusulkan agar adat istiadat Jawa seperti selamatan, bersaji, kesenian wayang dan gamelan di masuki rasa keislaman. Mendengar pendapat Sunan Kalijaga tersebut, bertanyalah Sunan Ampel,"Apakah tidak mengkhawatirkan di kelak kemudian hari bahwa adat istiadat dan upacara lama itu nanti dianggap sebagai ajaran yang berasal dari agama Islam? Jika hal ini dibiarkan, nantinya akan menjadi bid'ah."

Dalam musyawarah itu Sunan Kudus menjawab pertanyaan Sunan Ampel,"Saya setuju dengan pendapat Sunan Kalijaga, bahwa adat istiadat lama yang masih bisa di arahkan kepada ajaran Tauhid maka kita akan memberinya warna Islami. Sedangkan adat dan kepercayaan lama yang jelas-jelas menjurus kemusyrikan kita tinggalkan sama sekali. Sebagai misal, gamelan dan wayang kulit, kita bisa memberinya warna Islami sesuai dengan selera masyarakat. Adapun tentang kekuatiran kanjeng Sunan Ampel, saya mempunyai keyakinan bahwa di kemudian hari akan ada orang yang menyempurnakan."

Baca juga: 3 kondisi kebahagiaan seorang hamba

Adanya dua pendapat yang seakan bertentangan tersebut sebenarnya mengandung hikmah. Pendapat Sunan Kalijaga dan Sunan Kudus ada benarnya, yaitu agar agama Islam cepat di terima oleh orang Jawa, dan ini terbukti, dikarenakan dua wali tersebut pandai mengawinkan adat istiadat lama yang dapat ditolelir oleh Islam, maka penduduk Jawa banyak yang berbondong-bondong masuk agama Islam. Pada prinsipnya mereka mau menerima Islam lebih dahulu dan sedikit demi sedikit kemudian mereka akan diberi pengertian akan kebersihan Tauhid dalam iman mereka.

Sebaliknya, adanya pendapat Sunan Ampel yang menginginkan Islam harus di siarkan dengan murni dan konsekuen juga mengandung hikmah kebenaran yang hakiki, sehingga membuat umat semakin berhati-hati menjalankan syariat agama secara benar dan bersih dari segala macam bid'ah. Inilah jasa Sunan Ampel yang sangat besar, dengan peringatan inilah beliau telah menyelamatkan Aqidah umat agar tidak tergelincir ke lembah musyrik.

Sunan Ampel wafat pada tahun 1478 M, beliau dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel.

MURID-MURID SUNAN AMPEL
Murid-murid Sunan Ampel banyak sekali, baik dari kalangan bangsawan dan para pangeran Majapahit maupun dari kalangan rakyat jelata. Bahkan beberapa anggota Wali Songo adalah murid-murid beliau sendiri. Namun yang akan dikisahkan pada kesempatan ini adalah mengenai dua murid beliau yang makamnya tak jauh dari lokasi Sunan Ampel dimakamkan. Keduanya adalah Mbah Soleh dan Son Haji. Mengapa kedua tokoh ini yang di tampilkan, karena keduanya memiliki keunikan dan juga karomah atau keistimewaan luar biasa.

  • KISAH MBAH SOLEH
Mbah Soleh adalah salah satu dari sekian banyak murid Sunan Ampel yang mempunyai karomah atau keistimewaan luar biasa. Sebab adalah sebuah keajaaiban yang tak ada duanya, bila ada seorang manusia dikubur sampai sembilan kali. Ini bukan cerita buatan, melainkan kisah nyata ada buktinya.

Di sebelah timur masjid Agung Sunan Ampel ada sembilan kuburan. Itu bukan berarti kuburan sembilan orang, tetapi hanya seorang yaitu murid Sunan Ampel yang bernama Mbah Soleh.

Kisahnya demikian: Mbah Soleh adalah tukang sapu masjid Ampel di masa hidupnya Sunan Ampel. Apabila menyapu lantai masjid sangatlah bersih sekali, sehingga orang sujud di masjid tanpa sajadah pun tidak merasa ada debu.

Ketika Mbah Soleh wafat, beliau di kubur di depan masjid. Ternyata tidak ada santri yang sanggup mengerjakan pekerjaan Mbah Soleh, yaitu menyapu lantai masjid dengan bersih sekali. Maka ketika di tinggal Mah Soleh, lantai masjid pun menjadi kotor. Maka terucaplah kata-kata Sunan Ampel,"Bila Mbah Soleh masih hidup, tentulah masjid ini menjadi bersih."

Mendadak Mbah Soleh sudah berada di pengimaman masjid sedang menyapu lantai. Seluruh lantai masjid pun kembali bersih. Orang-orang terheran-heran melihat Mbah Soleh hidup lagi.

Beberapa bulan kemudian Mbah Soleh wafat lagi dan dikuburkan di samping kuburannya yang dulu. Masjid menjadi kotor lagi, lalu terucap kata-kata Sunan Ampel seperti dulu. Mbah Soleh pun hidup lagi. Hal itu berlangsung beberapa kali hingga kuburannya ada delapan. Pada saat kuburan Mbah Soleh ada delapan, Sunan Ampel meninggal dunia. Beberapa bulan kemudian Mbah Soleh meninggal dunia, sehingga kuburan Mbah Soleh ada sembilan, kuburan yang terakhir berada di ujung paling timur.

Jika anda berziarah ke makam Sunan Ampel, jangan lupa untuk berdo'a di depan makam Mbah Soleh.

  • KISAH MBAH SON HAJI
Mbah Son Haji sering disebut Mbah Bolong. Apa alasannya? Itu bukan gelar kosong atau sekedar olok-olokan. Beliau adalah salah satu murid Sunan Ampel yang mempunyai karomah luar biasa.

Kisahnya demikian, pada waktu pembangunan masjid Agung Ampel, Son Haji lah yang di tugasi mengatur tata letak pengimamannya. Son Haji bekerja dengan tekun dan penuh perhitungan, jangan sampai letak pengimaman masjid itu tidak menghadap ke kiblat. Tapi setelah bangunan pengimaman masjid itu jadi, banyak orang yang meragukan keakuratannya.

"Apa betul letak pengimaman masjid ini sudah menghadap ke kiblat?"
demikian pertanyaan yang meragukan pekerjaan Son Haji.
Son Haji tidak menjawab, melainkan melubangi dinding pengimaman sebelah barat, lalu berkata"Lihatlah kedalam lubang ini, kalian akan tau apa pengimamman ini sudah menghadap kiblat atau belum."

Orang-orang itu segera melihat ke dalam lubang yang dibuat Son Haji. Ternyata di dalam lubang itu mereka dapat melihat Ka'bah yang berada di Mekah. Orang-orang pada terkejut, sekaligus kagum dan akhirnya tak berani meremehkan Son Haji lagi. Sejak kejadian itu mereka lebih bersikap hormat pada Son Haji dan memberinya julukan Mbah Bolong.

Dengan rasa keterbatasan saya hanya ini info yang saya dapat tentang Asal Usul Sunan Apel | Kisah Wali Songo. Kiranya teman-teman ada yang bersedia untuk melengkapinya, dipersilakan.
Semoga bermanfaat.

Baca Juga:
  1. Ridha Terhadap Ketentuan Allah | Bersama Motor bodol
  2. Tuban Abu Mualak | Bocah Berbakti Kepada Orang Tua
  3. Asal Usul Sunan Apel | Kisah Wali Songo
  4. Hiduplah Sebagaimana Adanya | Motor Bodol
  5. Kakek Bantal
  6. Kisah Wali Songo | Penyebar Agama Islam di Tanah Jawa
  7. Tiga kondisi kebahagiaan seorang hamba
  8. Motor bodol untuk jarak jauh
  9. Sabar dalam menghadapi cobaan
  10. Pintu-pintu setan
  11. Obat sakit hati bisa dilakukan sendiri
  12. Hari Ini Milik Kita
  13. Kalimat motivasi untuk hidup lebih baik
  14. Jangan Risau dan Jangan Bersedih
  15. Tentukan Tujuan Hidup
  16. orang yang bahagi | happy person
  17. Ciri-ciri orang yang sengsara
  18. Meningkatkan kualitas diri
  19. Keutamaan Menuntut Ilmu
  20. Asal-Usul Syekh Siti Jenar
  21. Jangan Menyesali Masa Lalu
  22. Rahasia Bahagia | Kunci Bahagia
  23. Berpikir Dan Bersyukur
  24. Mush'ab bin Umair Duta Islam yang Pertama
  25. Salman Al Farisi Pencari Kebenaran
  26. Cara mempermudah bangun malam
  27. Cara Mengenali Nafsu
  28. Memerangi Nafsu Dengan Lapar
  29. Keutamaan Akhlak
  30. Rahasia Takdir
  31. Renungan Suci #1
  32. Renungan Suci #2
  33. Renungan Suci #3
  34. Ingin Kaya | Seriuslah Bekerja
  35. Biarkan Hari Esok Datang
  36. Tersenyumlah Dan Jangan Bersedih

Comments

Popular posts from this blog

Mush'ab bin Umair Duta Islam Yang Pertama | 60 Sahabat Nabi Muhammad saw

Ridha Terhadap Ketentuan Allah | Bersama Motor bodol

Tiga kondisi kebahagiaan seorang hamba

Hiduplah Sebagaimana Adanya | Motor Bodol

Jangan Menyesali Masa Lalu

Motor bodol untuk jarak jauh