Rahasia Bahagia | Kunci Bahagia

     Rahasia Bahagia. Hidup tenang dan bahagia, sudah cukup. Itulah kunci Bahagia. Sebab kebahagiaan dan ketenangan hati adalah salah satu nikmat terbesar. Jika hati kita bahagia, pikiran kita menjadi lurus. Kita bisa berbuat kebaikan.

     Hati yang bahagia menunjukan orang tersebut gembira. Banyak orang yang berkata, bahwa kebahagiaan adalah sesuatu yang harus dipelajari. Orang yang telah mencapai kesenangan hidup dan menikmati apa yang ada pada dirinya menunjukkan bahwa ia telah mendapatkan kebahagiaan.

     Satu perkara yang mendasar, yang mesti kita lakukan untuk mencapai kebahagiaan adalah dengan memiliki keteguhan niat. Jangan goyah jika diri kita diterjang badai kehidupan. Jangan pula terpengaruh masalah-masalah kecil. Hati yang kuat dan bersih, menunjukan bahwa diri kita telah mencapai kebahagiaan.

     Jiwa harus teguh terhadap pendirian mulia. Jangan kita memiliki kepribadian lemah, jangan pula kita mudah menyerah dan rasa takut. Sikap itu akan menimbulkan kesedihan kita sendiri. Akan menimbulkan kegundahan dan angan-angan.

     Belajarlah untuk bersabar. Lihatlah orang arif yang terbiasa sabar dalam menghadapi berbagai masalah, mereka mudah menyingkirkan setiap kesusahan.

hrrps://www.percetakansukawera.com
Baca Juga>>>
  1. Jangan Menyesali Masa Lalu
  2. Rahasia Bahagia | Kunci Bahagia
  3. Berpikir Dan Bersyukur
  4. Mush'ab bin Umair Duta Islam yang Pertama
  5. Salman Al Farisi Pencari Kebenaran
  6. Cara mempermudah bangun malam
  7. Cara Mengenali Nafsu
  8. Memerangi Nafsu Dengan Lapar
  9. Keutamaan Akhlak
  10. Rahasia Takdir
  11. Renungan Suci #1
  12. Renungan Suci #2
  13. Renungan Suci #3
  14. Ingin Kaya | Seriuslah Bekerja
  15. Biarkan Hari Esok Datang
  16. Tersenyumlah Dan Jangan Bersedih
     Penghalang kebahagiaan itu disebabkan terbatasnya pengetahuan dan akal pikiran yang dangkal. Kita tidak pernah menemukan kebahagiaan jika hanya memperhatikan diri kita sendiri, tanpa menengok dunia luar.

     Jika kita terikat pada diri kita sendiri, ibarat katak dalam tempurung. Bukankah Allah telah berfirman,

"Mereka dicemaskan oleh dirinya sendiri." [QS. Ali-Imran 154].

     Orang yang dimaksudkan dalam firman Allah tersebut adalah mereka yang berpikiran sempit. Mereka memandang dunia menurut hatinya sendiri, tidak menghiraukan orang lain, tidak hidup demi orang lain, dan tidak perduli dengan orang yang ada di sekitarnya.

     Oleh karena itu janganlah kita memandang diri sendiri saja, namun tengoklah dunia luar semampu kita. Dengan demikian, setiap kesedihan dan luka hati yang kita  rasakan dapat dihilangkan. Kita pun akan mendapatkan kebahagiaan, yaitu kebahagiaan diri sendiri dan kebahagiaan orang lain.

     Kita harus menjaga dan mengendalikan pikiran kita. Jangan sembrono dan gegabah dalam melakukan sesuatu yang tidak penting.

     Jika kita membiarkan pikiran, tidak dapat mengendalikan, maka kesedihan akan menghampiri kita. Penyesalan-penyesalan masa lalu, semenjak kita dilahirkan sampai kini akan mengganggu jiwa kita.

     Jika pikiran kita tersesat, maka luka dan kesedihan hati yang lalu tergambarkan(teringat) kembali dalam benak kita. Inilah yang menyebabkan kita menjadi ketakutan menyongsong masa depan. Rasa percaya pada diri sendiri menjadi goyah dan perasaan kita terbakar. Jika sudah demikian, setiap perbuatan baik akan sulit dilaksanakan. Maka tidak sesuatu yang ampuh kecuali kita harus membekali jiwa kita dengan tawakal kepada Allah.

     Dan bertakwalah kepada Allah yang hidup kekal, yang tidak mati. [QS. Al-Furqan 58].

     Cara selanjutnya untuk mencapai bahagia adalah dengan menghargai hidup kita sendiri. Kita harus melakukan sesuatu pada tempatnya yang cocok. Sebab kehidupan ini merupakan sandiwara yang harus dihindari. Sekiranya dunia sudah seperti itu, masihkah kita mengharapkannya dan merasa gelisah apa bila lepas dari tangan kita? Kejernihannya tampak keruh, langitnya seperti petir tanpa hujan, tanahnya seolah-olah padang pasir yang berserakan dan keasyikannya terbunuh dengan pedang pengkhianatan.

     Ada sebuah hadis, "Ilmu itu dapat diperoleh dengan belajar. Kebijaksanaan diperoleh dengan kemurahan hati."

     Ilmu sastra menggambarkan, kebahagiaan itu muncul dengan sendirinya tanpa harus dibuat-buat, muncul dengan senyuman, mengejar sebab akibatnya dan mengesampingkan setiap kesedihan, sehingga benar-benar menjadi perilaku yang wajar.

     Janganlah kita berkeluh kesah. Janganlah mengulangi kemarahan dan kecemberutan dalam hidup yang pernah kita lakukan. Hal itu membuat hati kita menjadi hancur.

     Sesungguhnya kita tidak dapat terlepas dari jeratan-jeratan kesedihan, karena hidup ini penuh dengan kesedihan dan kepahitan.

     Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. [QS. Al-Balad 4].

     Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur, yang Kami hendak mengujinya dengan perintah dan larangan. [QS. Al-Insan 2].

     Agar Dia menguji siapakah diantara kamu yang lebih baik amalannya. [QS. Hud 7].

     Yang dimaksud menghindari kesedihan adalah mengurangi dan menghilangkan rasa sedih. Melenyapkan kejenuhan yang kita alami. Itu dilakukan karena untuk menghilangkan semua rasa sedih secara sempurna adalah di akhirat, yaitu di surga.

Penduduk surga berkata :
    Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita kami. [QS. Fathir 34].

     Nyatalah bahwa kesedihan itu tidak dapat dihilangkan sama sekali. Kecuali ketika kita berada di dalam surga. Demikian juga kedengkian tidak dapat dilenyapkan sama sekali kecuali seseorang berada dalam surga.

     Dan Kami lenyap kan semua rasa dendam yang ada di hati mereka. [QS. Hijr 47].

     Barang siapa yang mengetahui keadaan dunia ini, dia dapat memahami bahwa hidup memang tercipta demikian. Sebagai mana ditulis dalam sebuah syair :

     Kehidupan dunia telah bersumpah dengan manusia
     Jika kita bersumpah dengan dunia
     Seakan-akan dia berjanji dengan manusia,
     Kalau dia tidak memenuhinya.

     Demikianlah sifat dunia, yang akan membuat kita menjadi tegar dan tidak menyerah terhadap keadaan. Kita tidak boleh menyerah dan tidak boleh bersedih. Kita harus menolak setiap permasalahan dengan kekuatan kita sendiri.

     Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat kan untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka, yang kamu tidak mengetahuinya sedang Allah mengetahuinya. [QS. Al-Anfal 60].

     Mereka tidak menjadi lemah, karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak pula menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. [QS. Al-Imran 146].

Baca Juga>>>
Semoga bermanfaat.

Popular posts from this blog

Mush'ab bin Umair Duta Islam Yang Pertama | 60 Sahabat Nabi Muhammad saw

Ridha Terhadap Ketentuan Allah | Bersama Motor bodol

Tiga kondisi kebahagiaan seorang hamba

Hiduplah Sebagaimana Adanya | Motor Bodol

Jangan Menyesali Masa Lalu

Asal Usul Sunan Apel | Kisah Wali Songo

Motor bodol untuk jarak jauh