Mush'ab bin Umair Duta Islam Yang Pertama | 60 Sahabat Nabi Muhammad saw

60 Sahabat Nabi Muhammad saw

Siapakah sahabat Mush'ab bin Umair itu ?

     Mush'ab bin Umair adalah duta Islam yang pertama salah seorang di antara para sahabat Nabi Muhammad saw. Alangkah baiknya jika kita memulai kisah dengan pribadinya. Seorang remaja Quraisy terkemuka, seorang yang paling ganteng dan tampan, penuh dengan jiwa dan semangat kemudaan (semangat darah muda).



https://www.percetakansukawera.com/2020/05/mushab-bin-umair-duta-islam-yang-pertama.html

Mush'ab bin Umair Duta Islam Yang Pertama|60 Sahabat Nabi Muhammad saw.html

Ahli riwayat melukiskan semangat kemudaannya (semangat darah muda) dengan kalimat:"Seorang warga kota Mekah yang memiliki nama paling harum".

     Ia lahir dan dibesarkan dalam kesenangan, dan tumbuh dalam lingkungannya. Mungkin tak seorang pun di antara anak-anak muda Mekah yang beruntung dimanjakan oleh kedua orang tuanya demikian rupa sebagai yang dialami Mush'ab bin Umair.

     Mungkinkah kiranya anak muda yang serba kecukupan, biasa hidup mewah dan manja, menjadi buah bibir gadis-gadis Mekah dan menjadi bintang di tempat-tempat pertemuan, akan meningkat sedemikian rupa hingga menjadi buah cerita tentang keimanan, menjadi semangat kepahlawanan.

     Sungguh, suatu riwayat penuh pesona, riwayat Mush'ab bin Umair atau "Mush'ab yang baik". Sebagai biasa di gelarkan oleh kaum Muslimin. Ia salah satu di antara pribadi-pribadi Muslimin yang ditempa oleh Islam dan di didik oleh Nabi Muhammad saw.

Corak pribadi yang manakah.....? pertanyaan yang bagus.
     Sungguh, kisah hidupnya menjadi kebanggaan bagi kemanusiaan.
Suatu hari anak muda ini mendengar berita yang telah tersebar luas di kalangan warga Mekah mengenai Muhammad Al-Amin....Muhammad saw. Yang mengatakan bahwa dirinya telah di utus Allah sebagai pembawa berita suka maupun duka, sebagai da'i yang mengajak umat beribadat kepada Allah Yang Maha Esa.

     Sementara perhatian warga Mekah terpusat pada berita itu, dan tiada yang menjadi buah pembicaraan mereka kecuali tantang Rasulullah saw. Serta Agama yang dibawanya, maka anak muda yang manja ini paling banyak mendengar berita itu. Karena walaupun usianya masih muda belia, tetapi ia menjadi bunga majelis tempat-tempat pertemuan yang selalu diharapkan kehadirannya oleh para anggota dan teman-temannya. Gayanya yang tampan dan otaknya yang cerdas merupakan keistimewaan Ibnu Umair, menjadi daya pemikat dan pembuka jalan pemecahan masalah.

     Di antara berita yang didengarnya ialah bahwa Rasulullah bersama pengikutnya biasa mengadakan pertemuan di suatu tempat yang terhindar jauh dari gangguan gerombolan Quraisy dan ancaman-ancamannya, yaitu di bukit Shafa di rumah Arqam bin Abil Arqam.

     Keraguannya tidak berjalan lama, hanya sebentar waktu ia menunggu, maka pada suatu senja di dorong oleh kerinduannya, pergilah ia ke rumah Arqam menyertai rombongan itu. Di tempat itu Rasulullah saw. sering berkumpul dengan para sahabatnya, tempat mengajarnya ayat-ayat Al-Quran dan membawa mereka shalat beribadat kepada Allah Yang Maha Esa.

     Baru saja Mush'ab mengambil tempat duduknya, ayat-ayat Al-Quran mulai mengalir dari kalbu Rasulullah saw. bergema melalui kedua bibirnya dan sampai ketelinga dan meresap di hati para pendengar. Di kala itu Mush'ab pun terpesona oleh untaian kalimat Rasulullah saw. yang tempat menemui sasaran pada kalbunya.

     Hampir saja Mush'ab terangkat dari tempat duduknya karena rasa haru, dan serasa terbang ia karena gembira. Tetapi Rasulullah saw. mengulurkan tangannya yang penuh berkat dan kasih sayang dan mengelus dada pemuda yang sedang panas bergejolak, hingga tiba-tiba menjadi lubuk hati yang sangat tenang dan damai, tidak berubah bagaikan lautan yang teguh dan dalam. Pemuda yang telah Islam dan Iman itu nampak telah memiliki ilmu dan hikmah yang luas, berlipat ganda dari ukuran usianya, dan mempunyai kepekatan hati yang mampu merubah jalan sejarah....!

     Khunas binti Malik yakni ibunda Mush'ab seorang yang berkepribadian kuat dan pendiriannya tidak dapat di tawar atau di ganggu gugat. Ia wanita yang di segani bahkan di takuti.

     Ketika Mush'ab mengenal Islam, tidak ada satupun kekuatan yang di takuti dan dikhawatirkannya selain ibunya sendiri, bahkan walaupun seluruh penduduk Mekah beserta berhala-berhala para pembesar dan padang pasirnya berubah rupa menjadi suatu kesatuan yang menakutkan yang hendak menyerang dan menghancurkannya, tentulah Mush'ab akan menganggapnya enteng. Tetapi tantangan dari ibunya bagi Mush'ab tidak dapat di anggap kecil.

     Ia pun segera berpikir keras dan mengambil keputusan untuk menyembunyikan keislamannya sampai terjadi sesuatu yang dikehendaki Allah. Demikianlah ia senantiasa bolak-balik ke
rumah Arqam menghadiri majelis Rasulullah saw., sedang hatinya merasa bahagia dengan keimanan dan sedia menebusnya dengan amarah murka ibunya yang belum mengetahui berita keislamannya.

     Tetapi di kota Mekah tiada rahasia yang tersembunyi, apalagi dalam suasana seperti itu. Mata kaum Quraisy berkeliaran di mana-mana mengikuti setiap langkah dan menyelusuri setiap jejak.

     Kebetulan seorang yang bernama Usman bin Thalhah melihat Mush'ab memasuki rumah Aqram secara sembunyi. Kemudian pada hari yang lain dilihatnya pula ia shalat seperti Muhammad saw. Secepat kilat ia mendapatkan ibu Mush'ab dan melaporkan berita yang dijamin kebenarannya.

     Berdirilah Mush'ab di hadapan ibu dan keluarganya serta para pembesar Mekah yang berkumpul di rumahnya. Dengan hati yang yakin dan pasti dibacakannya ayat-ayat Al-Quran yang di sampaikan Rasulullah untuk mencuci hati nurani mereka, mengisinya dengan hikmah dan kemuliaan, kejujuran dan ketakwaan.

     Ketika sang ibu hendak membungkam mulut putranya dengan tamparan keras, tiba-tiba tangan yang terulur bagai anak panah itu surut dan jatuh terkulai, demi melihat nur atau cahaya yang membuat wajah yang telah berseri cemerlang itu kian berwibawa dan patut di indahkan, menimbulkan suatu ketenangan yang mendorong dihentikannya tindakan.

     Karena rasa keibuannya, ibunda Mush'ab terhindar memukul dan menyakiti putranya, tetapi tak dapat menahan diri dari tuntutan bela berhala-berhalanya dengan jalan lain. Di bawalah putranya itu ke suatu tempat terpencil di rumahnya, lalu di kurung dan di penjarakannya sangat rapat.

     Demikianlah beberapa lama Mush,ab tinggal dalam kurungan sampai saat beberapa orang Muslimin hijrah ke Habsyi. Mendengar berita hijrah ini Mush'ab pun mencari muslihat, dan berhasil mengelabui ibu dan penjaga-penjaganya, lalu pergi ke Habsyi untuk melindungi diri. Ia tinggal di sana bersama saudara-saudaranya kaum Muhajirin, lalu pulang ke Mekah. Kemudian ia pergi lagi hijrah ke dua kalinya bersama para sahabat atas titah Rasulullah dan karena taat kepadanya.

     Baik di Habsyi atau pun di Mekah, ujian dan penderitaan yang harus di lalui Mush'ab di tiap dan tempat kian meningkat. Ia telah selesai dan berhasil menempa corak kehidupannya menurut pola yang modelnya telah di contohkan Muhammad saw. Ia merasa puas bahwa kehidupannya telah layak untuk dipersembahkan bagi pengorbanan terhadap Penciptanya Yang Maha Tinggi, Tuhan Yang Maha Akbar...

     Pada suatu hari ia tampil di hadapan beberapa orang Muslimin yang sedang duduk sekeliling Rasulullah saw. Demi memandang Mush'ab, mereka sama menundukkan kepala dan memejamkan mata, sementara beberapa orang nampak matanya basah karena duka. Mereka melihat Mush'ab memakai jubah usang yang di tambal-tambal, padahal belum lagi hilang dari ingatan mereka, pakaiannya sebelum masuk Islam tak obahnya bagaikan kembang di taman, berwarna-warni dan menghamburkan bau yang wangi.

     Adapun Rasulullah saw. menatapnya dengan pandangan penuh arti, disertai cinta kasih dan syukur dalam hati, pada kedua bibirnya nampak senyuman mulia, seraya berkata :
Dahulu saya lihat Mush'ab ini tak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya, kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya.

     Semenjak ibunya putus asa untuk mengembalikan Mush'ab kepada Agama yang lama, ia telah menghentikan segala pemberian yang biasa dilimpahkan kepadanya, bahkan ia tak sudi nasinya dimakan oleh orang yang telah mengingkari berhala dan patut mendapat kutukan dari padanya, walau anak kandungnya sendiri.

     Akhir pertemuan Mush'ab dengan ibunya, ketika ibunya itu hendak mencoba mengurungnya lagi sewaktu Mush'ab pulang dari Habsyi. Ia pun bersumpah dan menyatakan akan membunuh orang-orang suruhan ibunya jika rencana itu dilakukan. Karena sang ibu telah mengetahui kebulatan tekad putranya yang telah mengambil satu keputusan, tak ada jalan lain baginya kecuali melepasnya dengan cucuran air mata, sementara Muah'ab mengucapkan selamat berpisah dengan menangis pula.

     Saat perpisahan itu menggambarkan kepada kita kegigihan luar biasa dalam kekafiran fihak ibunya, sebaliknya kebulatan tekad yang lebih besar dalam mempertahankan keimanan dari fihak anak yaitu Mush'ab bin Umair. Ketika ibunya mengusirnya dari rumah sambil berkata : "Pergilah sesuka hatimu ! Aku bukan ibumu lagi". Maka Muah'ab pun menghampiri ibunya seraya berkata : "Wahai ibunda ! Telah saya sampaikan nasehat kepada bunda, dan saya menaruh kasihan kepada bunda. Karena itu saksikanlah tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya".

     Dengan murka dan naik darah ibunya menyahut : "Demi bintang aku tidak akan masuk ke dalam agamamu itu. Otak ku bisa jadi rusak, dan buah pikiran ku tidak akan di indahkan orang lagi".

     Demikian Mush'ab meninggalkan kemewahan dan kesenangan yang di alaminya selama itu, dan memilih hidup miskin dan sengsara. Pemuda ganteng yaitu Muah'ab kini telah menjadi seorang melarat dengan pakaiannya yang kasar dan usang, sehari makan dan beberapa hari menderita lapar.

     Tapi jiwanya yang telah dihiasi dengan Aqidah Suci dan cemerlang berkat sepuhan Nur Ilahi, telah merubah dirinya menjadi seorang manusia lain, yaitu manusia yang di hormati, penuh wibawa dan di segani..........
*****
     Suatu saat Mush'ab dipilih Rasulullah untuk melakukan tugas sangat penting saat itu. Ia menjadi duta atau utusan Rasul ke Madinah untuk mengajarkan seluk beluk Agama kepada orang-orang Anshar yang telah beriman dan bai'at kepada Rasulullah di bukit Aqabah. Di samping itu mengajak orang-orang lainnya untuk menganut Agama Allah, serta mempersiapkan kota Madinah untuk menyambut hijratul Rasul sebagai peristiwa besar.
Sebenarnya di kalangan sahabat ketika itu masih banyak yang lebih tua, lebih berpengaruh dan lebih dekat hubungan kekeluargaannya dengan Rasulullah dari pada Mush'ab. Tetapi Rasulullah menjatuhkan pilihannya kepada Mush'ab yang baik. Dan bukan tidak menyadari sepenuhnya bahwa beliau telah memikulkan tugas amat penting ke atas pundak pemuda itu (Mush'ab), dan menyerahkan kepadanya tanggung jawab nasib Agama Islam di kota Madinah, suatu kota yang tak lama lagi akan menjadi kota hijrah, pusat para da'i dan da'wah, tempat berhimpunnya penyebar Agama dan pembela Islam.

     Mush'ab memikul amanat itu dengan bekal karunia Allah kepadanya, berupa fikiran yang cerdas dan budi yang luhur. Dengan sifat zuhud, kejujuran dan kesungguhan hati, ia berhasil melunakkan dan menawan hati penduduk Madinah hingga mereka berduyun-duyun masuk Islam.

     Sesampainya di Madinah, didapatinya kaum muslimin di sana tidak lebih dari dua belas orang, yakni hanya orang-orang yang telah bai'at di bukit Aqabah. Tetapi tidak sampai beberapa bulan kemudian, meningkatlah orang yang sama-sama memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya.

     Pada musim haji berikutnya dari perjanjian Aqabah, kaum muslimin Madinah mengirim utusan yang mewakili mereka untuk menemui Nabi Muhammad saw. Dan utusan itu di pimpin oleh guru mereka, oleh duta yang di kirim Nabi Muhammad saw. kepada mereka, yaitu Mush'ab bin Umair.

     Dengan tindakannya yang tepat dan bijak sana, Mush'ab bin Umair telah membuktikan bahwa pilihan Rasulullah saw. atas dirinya itu tepat. Ia memahami tugas dengan sepenuhnya, hingga tak terlanjur melampaui batas yang telah di tetapkan. Ia sadar bahwa tugasnya adalah menyeru kepada Allah, menyampaikan berita gembira lahirnya suatu Agama yang mengajak manusia mencapai hidayah Allah, membimbing mereka ke jalan yang lurus. Akhlaknya mengikuti pola hidup Rasulullah yang di imaninya, yang mengemban kewajiban hanya menyampaikan belaka....

     Di Madinah Mush'ab tinggal sebagai tamu di rumah As'ad bin Zararah. Dengan di dampingi As'ad, ia pergi mengunjungi kabilah-kabilah, rumah-rumah dan tempat-tempat pertemuan, untuk membacakan ayat-ayat Kitab Suci dari Allah, menyampaikan kalimattullah "bahwa Allah Tuhan Yang Maha Esa" secara hati-hati.
Baca Juga>>>
Pernah Mush'ab menghadapi beberapa peristiwa yang mengancam keselamatan dirinya dan para sahabatnya, yang hampir celaka kalau tidak karena kecerdasan akal dan kebesaran jiwanya. Suatu hari, ketika ia sedang memberikan petuah kepada orang-orang, tiba-tiba di sergap Usaid bin Hudlair kepala suku kabilah Abdul Asyhal di Madinah. Usaid mendorong Mush'ab dengan menyentakkan lembing nya. Bukan main marah dan murkanya Usaid, menyaksikan Mush'ab yang di anggap akan mengacau dan menyelewengkan anak buahnya dari agama mereka, serta mengemukakan Tuhan Yang Maha Esa yang belum pernah mereka kenal dan dengar sebelum itu. Padahal menurut anggapan Usaid, tuhan mereka yang bersimpuh di tempatnya masing-masing mudah di hubungi secara kongkrit. Jika seseorang memerlukan salah satu di antaranya, tentulah ia akan mengetahui tempatnya dan segera pergi mengunjungi nya untuk memaparkan kesulitan serta menyampaikan permohonan. Demikianlah yang tergambar dan terbayang dalam pikiran suku Abdul Asyhal. Tetapi Tuhan nya Muhammad saw._ yang di serukan ibadah kepada-Nya_oleh utusan yang datang kepada mereka itu, tiadalah yang mengetahui tempat-Nya dan tak seorang pun yang dapat melihat-Nya.

     Demi di lihat kedatangan Usaid bin Hudlair yang murka bagaikan api sedang berkobar kepada orang-orang Islam yang duduk bersama Mush'ab, merekapun merasa takut. Tetapi Mush'ab yang baik tetap tinggal tenang dengan muka yang tidak berubah.

Bagaikan singa yang hendak menerkam, Usaid berdiri di depan Mush'ab dan As'ad bin Zararah, bentak nya:"Apa maksud kalian datang ke kampung kami ini, apakah hendak membodohi rakyat kecil kami? Tinggalkan segera tempat ini, jika tak ingin segera nyawa kalian melayang!"

Seperti tenang dan menatapnya samudera dalam.....,laksana tenang dan damai nya laksana fajar.....,terpancar lah ketulusan hati "Mush'ab yang baik", dan bergeraklah lidahnya mengeluarkan ucapan halus, katanya: "Kenapa anda tidak duduk dan mendengarkan dulu? Seandainya anda menyukai nanti, anda dapat menerimanya. Sebaliknya jika tidak, kami akan menghentikan apa yang tidak anda sukai itu!"

Sebenarnya Usaid seorang berakal dan berpikiran sehat. Dan sekarang ini ia di ajak oleh Mush'ab untuk berbicara meminta pertimbangan kepada hati nuraninya sendiri. Yang di minta nya hanyalah agar ia bersedia mendengan dan bukan yang lainnya. Jika ia menyetujui, ia akan membiarkan Mush'ab, dan jika tidak, maka Mush'ab berjanji akan meninggalkan kampung dan rakyat mereka untuk mencari tempat dan masyarakat lain, dengan tidak merugikan atau pun dirugikan orang lain.

Sekarang saya insaf, ujar Usaid. Lalu melanjutkan lembing nya ke tanah dan duduk mendengarkan. Demi Mush'ab membacakan ayat-ayat al-Qur'an dan menguraikan dakwah yang di bawa Muhammad saw. bin Abdullah ra., maka dada Usaid pun mulai terbuka dan bercahaya, beralun berirama mengikuti naik turun nya suara serta meresapi keindahannya. Dan belum lagi Mush'ab selesai dari uraiannya. Usaid pun berseru kepadanya dan kepada sahabatnya: "Alangkah indah dan benarnya ucapan itu . . . ! Dan apakah yang harus di lakukan oleh orang yang hendak masuk Agama ini? "Maka sebagai jawabannya gemuruh lah suara tahlil, serempak seakan hendak menggoncangkan bumi. Kemudian ujar Mush'ab: "Hendaklah ia mensucikan diri, pakaian dan badannya, serta bersaksi bahwa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah swt".

Beberapa lama Usaid meninggalkan mereka, kemudian kembali sambil memeras rambutnya, lalu ia berdiri sambil menyatakan pengakuannya bahwa tiada Tuhan yang haq diibadahi melainkan Allah dan Muhammad itu utusan Allah . . .

Secepatnya berita itu pun tersiarlah. Keislaman Usaid disusul oleh kehadiran Sa'ad bin Mu'adz. Dan setelah mendengar uraian Mush'ab, Sa'ad merasa puas dan masuk Islam pula.

Langkah ini disusul pula oleh Sa'ad bin 'Ubadah. Dan dengan keislaman mereka ini, berarti selesai lah persoalan dengan berbagai suku yang ada di Madinah. Warga kota Madinah saling berdatangan dan saling tanya-bertanya sesama mereka: "Jika Usaid bin Hudlair, Sa'ad bin 'Ubadah dan Sa'ad bin Mu'adz telah masuk Islam, apalagi yang kita tunggu . . . Ayo lah kita pergi kepada Mush'ab dan beriman bersamanya! Kata orang, kebenaran itu terpancar dari celah-celah giginya!"

*****

Demikianlah duta Rasulullah yang pertama telah mencapai hasil yang gemilang yang tiada taranya, suatu keberhasilan yang memang wajar dan layak diperolehnya. Hari-hari dan tahun-tahun pun berlalu, dan Rasulullah dan para sahabatnya hijrah ke Madinah.

Orang-orang Quraisy semakin geram dengan dendamnya, mereka menyiapkan tenaga untuk melanjutkan tindakan kekerasan terhadap hamba-hamba Allah yang shalih. Terjadilah perang Badar dan kaum Quraisy pun peroleh pelajaran pahit yang menghabiskan sisa-sisa pikiran sehat mereka, hingga mereka berusaha untuk menebus kekalahan. Kemudian datanglah giliran perang Uhud, dan Kaum Muslimin pun bersiap-siap mengatur barisan. Rasulullah berdiri di tengah barisan itu, menatap setiap wajah orang beriman menyelidiki siapa yang sebaiknya membawa bendera perang. Maka terpanggil lah Mush'ab yang baik, dan pahlawan itu tampil sebagai pembawa bendera.

Peperangan berkobar lalu berkecamuk dengan sengit nya. Pasukan panah melanggar tidak mentaati peraturan Rasulullah, mereka meninggalkannya dicela bukit setelah melihat orang-orang musyrik menderita kekalahan dan mengundurkan diri. Perubahan mereka itu secepatnya merubah suasana, hingga kemenangan Kaum Muslimin beralih menjadi kekalahan.

Dengan tidak terduga pasukan berkuda Quraisy menyerbu Kaum Muslimin dari puncak bukit, lalu pedang dan tombak pun berdentang bagaikan mengamuk, membantai Kaum Muslimin porak poranda, musuh pun menunjukkan serangan ke arah Rasulullah dengan maksud menghantam nya.

Mush'ab Bin Umair menyadari suasana gawat ini. Maka di acungkan nya bendera setinggi-tingginya dan bagaikan auman singa ia bertakbir sekeras-kerasnya, lalu maju ke depan, melompat, mengelak dan berputar lalu menerkam. Minatnya tertuju untuk menarik perhatian musuh kepadanya dan melupakan Rasulullah saw. Dengan demikian dirinya pribadi bagaikan membentuk barisan tentara . . .

Sungguh, walau pun seorang diri, tetapi Mush'ab bertempur laksana pasukan tentara besar . . . Sebelah tangannya memegang bendera bagaikan tameng kesaktian, sedangkan, tangan yang sebelah nya lagi menebaskan pedang dengan matanya yang tajam . . . Tetapi musuh kian bertambah banyak juga,  mereka hendak melangkahi Mush'ab dengan menginjak-injak tubuhnya untuk mencapai Rasulullah.

Sekarang mari kita perhatikan saksi mata, yang akan menceritakan saat-saat terakhir pahlawan besar Mush'ab bin Umair.

Berkata Ibnu Sa'ad: "Di ceritakan kepada kami oleh Ibrahim bin Muhammad bin Syurahbil al-'Abdari dari Bapaknya, ia berkata:

"Mush'ab bin Umair adalah pembawa bendera perang Uhud. Tatkala barisan Kaum Muslimin pecah, Mush'ab bertahan pada kedudukannya. Datanglah seorang musuh berkuda, Ibnu Qumaiah namanya, lalu menebas tangannya hingga putus, sementara Mush'ab mengucapkan: "Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, yang sebelumnya telah di dahului oleh beberapa Rasul". Maka dipegangnya bendera dengan tangan kirinya sambil membungkuk melindunginya. Musuh pun menebas tangan kirinya hingga putus pula. Mush'ab membungkuk kearah bendera, lalu dengan kedua pangkal lengannya meraih nya ke dada sambil mengucapkan: "Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, dan sebelumnya telah di dahului oleh beberapa Rasul". Lalu orang berkuda itu menyerangnya ketiga kali dengan tombak, dan menusuk kan nya hingga tombak itu pun patah. Mush'ab pun gugur dan bendera pun jatuh".

Gugurlah Mush'ab dan jatuhlah bendera . . . Ia gugur sebagai bintang dan mahkota para syuhada . . . Dan hal itu dialaminya setelah dengan keberanian yang luar biasa mengarungi kancah pengorbanan dan keimanan. Di saat itu Mush'ab berpendapat bahwa sekiranya ia gugur, tentulah jalan para pembunuh akan terbuka lebar menuju Rasulullah tanpa ada pembela yang akan mempertahankannya. Demi cintanya yang tiada terbatas kepada Rasulullah dan cemas memikirkan nasibnya nanti, ketika ia akan pergi berlalu, setiap kali pedang jatuh menerbangkan sebelah tangannya, dihibur nya dirinya dengan ucapan: "Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, dan sebelumnya telah di dahului oleh beberapa Rasul".

Kalimat yang kemudian di kukuhkan sebagai wahyu ini selalu di ulang dan dibacanya sampai selesai, hingga akhirnya menjadi ayat al-Qur'an yang selalu di baca orang . . .

*****

Setelah pertempuran usai, ditemukan lah jasad pahlawan ulung yang syahid terbaring dengan wajah menelungkup ke tanah digenangi darahnya yang mulia . . . Dan seolah-olah tubuh yang telah kaku itu masih takut menyaksikan bila Rasulullah ditimpa bencana, maka disembunyikannya wajahnya agar tidak melihat peristiwa yang dikhawatirkan dan ditakutinya itu. Atau mungkin pula ia merasa malu karena telah gugur sebelum hatinya tenteram peroleh kepastian akan keselamatan Rasulullah, dan sebelum ia selesai menunaikan tugasnya dalam membela dan mempertahankan Rasulullah sampai berhasil.

Wahai Mush'ab cukuplah bagimu ar-Rahman . . .
Namamu harum semerbak dalam kehidupan . . .
*****

Rasulullah beserta para sahabat datang menuju medan pertempuran untuk menyampaikan perpisahan kepada para syuhada. Ketika sampai di tempat terbaring lah jasad Mush'ab, bercucurlah dengan deras air matanya. Berkata Khabbah ibnul'Urrat:

"Kami hijrah di jalan Allah bersama Rasulullah saw. dengan mengharap keridlaan-Nya, hingga pastilah sudah pahala di sisi Allah. Di antara kami ada yang telah berlalu sebelum menikmati pahalanya di dunia ini sedikit pun juga. Di antaranya ialah Mush'ab bin Umair yang tewas di perang Uhud. Tak sehelai pun kain menutupinya selain sehelai burdah. Andainya di taruh di atas kepalanya, terbukalah kedua belah kakinya. Sebaliknya bila di tutup kan ke kakinya, terbukalah kepalanya, dan kakinya tutupilah dengan rumput idzkhir!" 

Betapa pun luka pedih dan duka yang dalam menimpa Rasulullah karena gugur pandawa Hamzah dan dirusak tubuhnya oleh orang-orang musyrik demikian rupa, hingga bercucurlah air mata Nabi . . . Dan betapa penuhnya medan laga dengan mayat para sahabat dan kawan-kawannya, yang masing-masing mereka baginya merupakan panji-panji ketulusan, kesucian dan cahaya . . . Betapa juga semua itu, tapi Rasulullah tak melewatkan berhenti sejenak dekat jasad dutanya yang pertama, untuk melepas dan mengeluarkan isi hatinya . . . Memang, Rasulullah berdiri di depan Mush'ab bin Umair dengan pandangan mata yang pendek bagai menyelubungi nya dengan kesetiaan dan kasih sayang, dibacakannya ayat:

Di antara orang-orang Mu'min terdapat pahlawan-pahlawan yang telah menepati janjinya dengan Allah. [Q.S. al-Ahzab : 23]

Kemudian dengan mengeluh memandangi burdah yang di gunakan untuk kain tutupnya, seraya bersabda:

Ketika di Mekah dulu, tak seorang pun aku lihat yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya dari padamu. Tetapi sekarang ini, dengan rambutmu yang kusut masai, hanya di balut sehelai burdah.

Setelah melayangkan pandang, pandangan sayu kearah medan serta para syuhada kawan-kawan Mush'ab yang tergeletak di atasnya, Rasulullah berseru:

Sungguh, Rasulullah akan menjadi saksi nanti di hari kiamat, bahwa tuan-tuan semua adalah syuhada di sisi Allah.

Kemudian berpaling kearah sahabat yang masih hidup, sabdanya:

Hai manusia! Berziarahlah dan berkunjunglah kepada mereka, serta ucapkanlah salam! Demi Allah yang menguasai nyawaku, tak seorang Muslim pun sampai hari kiamat yang memberi salam kepada mereka, pasti mereka akan membalasnya.
Salam atasmu wahai Mush'ab . . .
Salam atasmu sekalian, wahai para syuhada . . .
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Popular posts from this blog

Ridha Terhadap Ketentuan Allah | Bersama Motor bodol

Tiga kondisi kebahagiaan seorang hamba

Hiduplah Sebagaimana Adanya | Motor Bodol

Jangan Menyesali Masa Lalu

Asal Usul Sunan Apel | Kisah Wali Songo

Motor bodol untuk jarak jauh